Kamis, 10 Agustus 2017

Ambon Layak Menjadi Laboratorium Perdamaian di Indonesia

Padamu Neg'ri, Kami Berjanji;.... Bagimu Neg'ri Jiwa Raga Kami


Laboratorium, sejatinya adalah ruang bagi riset-riset ilmiah yang terkendali. Ruang riset itu biasanya dimanfaatkan untuk eksperimen komprehensif, pengukuran terbatas, dan tempat pelatihan bagi para periset. Disebut terkendali karena para periset dapat mendesain dan merekayasa variabel-variabel riset sesuai dengan kebutuhan. Tentu definisi laboratorium seperti itu sangatlah positivis di mana aspek observasi empiris menjadi faktor utama pemerolehan pengetahuan. Sumber pengetahuan adalah sesuatu yang ada di luar sana, teramati, terukur, dan dapat diprediksi. Intinya, pengetahuan adalah obyektifitas. Subyektifitas periset hanya dilihat sebagai halangan bagi penemuan ilmiah karena kadar obyektifitasnya akan diragukan. Laboratorium menemukan tempatnya yang tepat pada riset-riset ilmu-ilmu alam, namun ketika beberapa pemikir mencoba pendekatan riset ilmu alam kepada riset-riset tentang manusia, diawali oleh Auguste Comte, jadilah manusia dianggap sama seperti alam yang dapat diamati, diukur, diprediksi. Apakah bisa demikian?

Bagaimana jika suatu komunitas yang menjadi laboratorium? Tentu saja dibolehkan, dengan catatan ada gerak yang melampaui definisi dan hakekat laboratorium dalam pengertian asalinya itu. Laboratorium damai misalnya, yang menjadikan komunitas di Ambon atau Maluku sebagai ruang riset perdamaian. Pendekatannya haruslah post-positivis sebagai upaya "menentang" perspektif positivisme karena tindakan manusia tidak dapat diprediksi dengan satu penjelasan yang mutlak dan pasti karena manusia selalu saja berubah. Dalam perspektif post-positivisme itulah, Ambon atau Maluku layak dijadikan sebagai laboratorium damai di Indonesia.

Pertanyaan utama yang patut dikemukakan adalah "Mengapa Ambon layak menjadi laboratorium damai, tempat belajar/riset/berlatih tentang perdamaian?" Tentu saja akan muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang lebih praktis soal "Bagaimana menjadikan Ambon sebagai laboratorium damai?" Namun pertanyaan kedua ini akan disimpan untuk ditelusuri nanti.

Ada banyak tempat yang warganya hidup berdampingan dalam damai meski berbeda agama dan suku bangsa, tetapi mereka belum pernah ada dalam situasi berdarah-darah seperti Ambon. Pernah di Ambon, sesama manusia berbeda agama angkat parang, melepas panah, melempar tombak, membidik senjata, dll., untuk saling menghabisi. Belum sampai 2 dekade peristiwa-peristiwa itu terjadi sehingga masih segar ingatan tentang penderitaan itu. Para pemuda dan remaja yang lahir saat peristiwa tersebut, sebagian dari mereka, dibesarkan dengan narasi-narasi kekerasan, kebencian, juga penderitaan.

Tetapi Ambon (Maluku) cepat bangkit. Kami cepat sadar bahwa kami sementara menari dengan musik orang lain. Kerja-kerja keras perdamaian pun mulai mengisi hari-hari di Ambon sejak kesadaran itu muncul. Kini, kami yang dulu berkelahi, memilih jalan untuk berdamai. Meskipun banyak hal yang tidak sama lagi seperti sebelum peristiwa itu, tetapi kami memiliki keyakinan bahwa perlahan-lahan kerja kami akan membuahkan hasil.

Fakta-fakta itu semakin jelas ketika saya diundang mengikuti kegiatan Training Penggerak Perdamaian Berbasis Komunitas di Ambon. Selama 3 (tiga) hari para peserta dilatih dan dibekali dengan beberapa kemampuan, di antaranya kemampuan melakukan analisis sosial berbasis konflik, kemampuan mengorganisasi komunitas, dan kemampuan membedah kasus. Tetapi yang sangat berkesan adalah ketika melakukan kunjungan ke Masjid Batu Merah, Gereja Latta, dan Komunitas Ambon Bergerak. Refleksi terhadap kunjungan itu akan menjadi tulisan tersendiri. Sebanyak 25 orang peserta akhirnya membentuk Komunitas Penggerak Perdamaian Ambon (PPA). PPA hanyalah komunitas kecil yang orang-orangnya baru bertemu dalam semangat yang sama, menggerakkan perdamaian. Kami saling belajar, saling berbagi, saling mengkritisi dalam keterbukaan. Pertanyaan paling penting saat itu adalah, "mengapa beberapa komunitas sudah bekerja keras dalam menghadirkan damai di Ambon, sedangkan kami baru berjumpa untuk dilatih menjadi penggerak damai?" Mungkin kami adalah generasi berikut dari para penggerak damai sebelumnya. Dengan demikian, dari generasi ke generasi akan selalu ada penggerak damai di komunitas masing-masing.

Ambon sangat layak menjadi tempat belajar karena pernah berada dalam situasi teramat tidak manusiawi, tetapi saat ini perlahan dan pasti, jalinan-jalinan kemanusiaan itu mulai dipulihkan. Pemulihan diri lebih banyak terjadi secara internal, meski ada juga rekayasa-rekayasa sosial.

Mari, belajar di Ambon. Beberapa teman Muslim kami sudah pernah tinggal berhari-hari di rumah-rumah orang Kristen dan mereka tidak dijadikan sama seperti kami (kadangkala, ini yang dijadikan pegangan). Live in adalah model yang menarik di mana peserta akan tinggal selama beberapa hari bersama dengan mama dan bapa piara (tuan rumah) yang berbeda agama. Jika sudah tinggal bersama, makan dan minum bersama, bercerita dalam keterbukaan, maka perlahan-lahan sekat-sekat perbedaan akan mulai runtuh dengan sendirinya. 

Untuk pertanyaan, "Bagaimana menjadikan Ambon sebagai laboratorium damai?" Selama training 4 (empat) hari itu, saya menemukan bahwa live in adalah metode yang ampuh bagi itu. Silahkan melakukan rekayasa sosial dengan kegiatan live in selama beberapa waktu dan ikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri para peserta live in.

Salam Damai!!

Tidak ada komentar:

Sampah Ambon