Rabu, 23 November 2011

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Hari ini ada sedikit kegundahan karena istri dikabarkan sudah masuk rumah sakit, bersiap untuk melahirkan, sementara tiket Jayapura - Ambon yang didapat hanya untuk hari Jumat. Iseng-iseng, kubuka lagi daftar kiriman e-mailku dan kudapati satu tulisan yang kukirim kepada beberapa teman, hampir 6 tahun silam.

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Surat ini aku tulis dalam keheningan yang mendalam,
di bawah sinar bulan dan cerahnya malam.
Belum pernah kulihat malam secarah ini.
Mungkin di tempat lain, tetapi tidak di tanah kita.

Surat ini aku tulis dalam kesyahduan malam,
dibarengi titik air mata karena kesedihan yang melanda,
mengingat masa-masa di mana kami meradang . . . merana
tak kuasa menahan amarah yang berbuah petaka

Surat ini aku tulis dalam harapan berlapis gundah
penyesalan tak henti atas noda besar yang kami buat dalam sejarah tanah kita,
dan ingin memohon maaf, wariskan negeri yang tak lagi indah.

Surat ini aku tulis agar kalian tak lupa,
bahwa "katong samua basudara", "potong di kuku, rasa di daging", "ale rasa, beta rasa", walaupun ada juga yang seperti pedang bermata dua.

Aku sadar, kalian tak bisa lagi tatapi megahnya Gereja Tua di Negeri Hila yang harus hancur dilanda angkara,  atau nikmati semaraknya festival tahunan Taman Hiburan Remaja di pesisir Waihaong, karena yang ada disana kini hanyalah kuburan para Syuhada.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang teman dan sahabat yang mati satu per satu sia-sia,
tentang saudara dan keluarga yang meregang nyawa tak bersalah,
tentang rumah dan tempat ibadah yang kami hancurkan bersama semua yang ada di dalamnya,
tentang kebun dan ladang yang kami jarah, dan tentang sekolah, rumah sakit dan banyak lagi yang kami bakar dan akhirnya musnah, seakan semua punya salah,
tentang ribuan orang yang terpaksa lari tinggalkan tanah tumpah darah, tak tahu kapan harus kembali.

Sekarang aku baru tersadar bahwa saat itu kami bukan lagi manusia,
ketika orang-orang tak berdaya  yang lari dan hampir  tenggelam di  dinginnya laut ,
atau jatuh terjengkang di kerasnya gunung, masih kami tembaki  dengan peluru dari laras-laras senjata, masih kami hujani dengan bom yang tak juga mereda.

Aku tak mampu lagi menghitung semua.
Bagiku, satu saja terlalu banyak bagai sejuta.
Tetapi kukuatkan hati agar kata tetap terangkai dan surat ini bisa kutulis buat kalian penerus masa.

Entah siapa kami? Kami tak lagi mengenal diri, ketika Minggu pagi memuji DIA di Gereja dan siangnya menghilangkan nyawa, ketika Jumat siang menyembah DIA di Masjid dan sorenya menumpahkan darah.
DIA, TUHAN yang kami puji dan sembah di pagi dan siang itu, ternyata adalah DIA, TUHAN yang kami bunuh di siang dan sore harinya.
Selalu saja kami bertamasya dalam asyiknya dosa.

Banyak di antara kami yang mau jadi pahlawan. Mungkin ingin agar namanya tercatat dalam lembaran sejarah kelam sebagai pengkhianat kehidupan yang berbangga ketika menghitung satu per satu nyawa yang meregang di ujung senjata.
Tetapi tak sedikit juga yang mau mengail di air keruh, keruh karena merahnya darah yang tertumpah.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang masa-masa kelam ketika saudara membunuh saudara.
Tentang kesalahan terbesar tak terkira.

Surat ini aku tulis sebagai tanda buat kalian,
bahwa kita tidak akan menjadi keledai-keledai dungu yang masuk lagi ke lobang hitam yang sama.
Bahwa kita akan berbenah dan kalian bisa tertawa bahagia.
Kalian harus belajar bahwa agama bukan apa-apa bila dipakai sebagai dasar hancurkan kehidupan dan menghilangkan nyawa.
Kalian harus pahami bahwa hidup lebih berharga daripada ideologi-ideologi pembawa bencana.
Kalian harus berjanji bahkan bersumpah, tidak akan lagi mengulang kesalahan kami.
Kalian harus kuat 'tuk kembalikan senyuman di wajah negeri kita.

Surat ini aku tulis sambil berharap,
kalian sudi memaafkan kami yang wariskan negeri penuh duka,
kalian sudi memaafkan kami yang hancurkan indahnya hidup orang basudara,
kalian sudi memaafkan kami yang hampir tak peduli dengan masa depan tanah tumpah darah.

Surat ini aku tulis karena aku tak mampu lagi berkata.
Air mata terlalu deras tertumpah dan hati ini sedih gundah gulana.
Tetapi tetap saja kutulis surat ini, tanda peringatan dan cinta, pada kalian para pewaris  tanah pusaka, ANAK-ANAK MALUKU MANISE.


dalam rindu tak tertahan akan tanah MALUKU
Jusnick Anamofa

Jayapura, 12 Agustus 2006

Jumat, 18 November 2011

NAMA UNTUK ANAKKU

Kami menikah tanggal 30 Desember 2007 dengan cara yang tenang karena tidak dihadiri (bahkan tidak diketahui oleh keluarga dari pihak kami berdua). Pernikahan yang dilangsungkan di Jemaat GKI di Tanah Papua Maribu Tua (Dekat Depapre - Sentani - Papua) itu hanya dihadiri oleh kenalan dan warga jemaat setempat. Selesai menikah, kami masih sempat tinggal bersama selama hampir 2 bulan sebelum saya berangkat ke Jogja, sementara istri bekerja di Biak sekitar Februari 2008.

Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu sehingga kami berencana untuk belum punya anak dulu. Hampir 3 tahun di Jogja (2008 - 2011), kami bertemu hanya 1 tahun sekali, saat merayakan Natal dan Tahun Baru di Ambon. Lagi-lagi dalam perjumpaan-perjumpaan itu, kami masih ada dalam rencana di atas. Setelah saya menyelesaikan studi, Januari 2011, maka rencana baru pun dibuat, sudah saatnya kami punya anak. Awalnya ada keinginan bahwa dia (calon anak kami) mesti "made in Bali", tetapi ternyata salah perhitungan atau salah "kreatifitas", akhirnya gagal.

Puji Tuhan Sumber Segala Berkat atas semuanya, anakku ternyata "made in Nabire, Papua" (setahun terakhir, istri telah dipindahtugaskan dari Biak ke Nabire). Seiring waktu berjalan, pertemuan dengan istri pun hanya sekitar 1 bulan, saya kembali ke Jayapura untuk bekerja dan istri tetap di Nabire untuk bekerja. Hal utama yang kami pikirkan tentang itu adalah syukur kepada DIA, Sang Hidup. Hal selanjutnya adalah mempersiapkan hal-hal terkait situasi besar ini, termasuk finansial dan sebagainya.

Sampai beberapa waktu yang lalu, belum terpikir satu nama pun di dalam benak kami karena memang belum ada pemeriksaan tentang jenis kelaminnya (pake teknik kedokteran modern juga nieh). Setelah ada informasi dari Nabire bahwa si dia berjenis kelamin laki-laki, mulailah pekerjaan besar saya, sebagai (calon) Ayah untuk memberikan nama kepadanya.

Entah bagi orang lain, tetapi bagi saya pribadi, nama anak mesti diberikan oleh ayahnya (rada paternalistis juga nieh) karena itu adalah cara untuk menyatakan bahwa "Inilah Anakku, Kepadanyalah Aku Berkenan" (xixixixiiii). Dialah yang akan mewarisi namaku (Anamofa) agar aku (Anamofa) dapat hidup seterusnya walaupun aku (Jusuf Nikolas) akan mati pada waktunya.

Awalnya saya ingin mencari-cari nama yang baik dan tepat bagi anak saya. Saya coba mengingat-ingat lagi nama-nama yang beken dari Barat sana, kemudian nama-nama yang Alkitabiah (istri saya meminta supaya dia kelak dinamakan dengan arti "jawaban Tuhan"), tidak puas, saya coba mengingat nama moyang-moyang leluhur kami. Tidak puas juga, tidak puas juga, tidak puas juga, akhirnya saya berhenti mencari. Perhentian itu bukan berarti diam dalam ketidakpastian, tetapi diam dalam ketenangan sambil merefleksikan perjalanan hidup Anamofa, si ayah ini. Harapannya, refleksi itulah yang akan mendatangkan nama bagi si anak, Anamofa itu.

Setelah melewati pergumulan beberapa saat, akhirnya telah diputuskan bahwa Anamofa akan menjadi namanya. Dia adalah Pemberian Allah (sesuai keinginan istri agar salah satu namanya bermakna "Jawaban Tuhan"). Terkait nama itu, saya mesti membuka kamus salah satu bahasa dunia yang jarang digunakan di Indonesia, yaitu bahasa Rusia (entah mengapa tiba-tiba ada intuisi bahwa makna itu harus terkandung dalam salah satu nama bahasa Rusia). Munculah nama MATVEY yang berarti PEMBERIAN ALLAH. Bagi saya, nama itu masih menyiratkan keinginan ibunya. Refleksi atas perjalanan hidup saya belum nampak di sana lewat namanya.

Sekedar mengingat-ingat lagi, saya terlahir dari keluarga yang sederhana, di salah satu negeri Selatan Pulau Seram (Soahuku). Ayah saya, Zeth Imanuel Anamofa adalah pegawai golongan bawah karena cuma lulusan SMP (sebelumnya adalah relawan TNI AU saat Trikora yang bertugas menjaga logistik terutama bahan bakar pesawat-pesawat tempur di lapter Kuako). Ibu saya, Esterlina Adersina Sopacuaperu pun cuma ibu rumah tangga saja. Namun dalam kesederhanaan itu, saya bersama seorang adik, Stefanus Hendrik Robert Anamofa dibesarkan. Kami juga diasuh oleh nenek dari Ayah, Dina Anidlah yang bagi kami saat itu adalah seorang nenek yang sangat keras dengan semua hal yang dianggapnya salah. Kelemahlembutan dan kekerasan adalah makanan kami setiap hari. Setelah besar barulah saya mengerti, betapa bijaknya mereka berdua mendidik kami. Seiring waktu, semakin beranjak besar, semakin menjadi-jadilah diriku sebagai seorang Anamofa.

Kalau diibaratkan sungai, ada saat hidup saya penuh ketenangan, ada saat muncul riam-riam kecil, ada saat harus penuh batu-batu besar, bahkan harus melalui terjalnya gunung seperti air terjun. Walaupun demikian, hidup ini terus mengalir saja. Pernah suatu ketika, hampir dipotong jari-jari ini oleh Ibu karena mengambil seluruh gaji Ayah sebulan hanya untuk dipakai bermain biliard. Waktu itu saya baru saja naik kelas 6 SD. Beruntung masih separoh yang dipakai, kalah lagi. Atau pada saat SMA, saya hidup beberapa lama di atas keramba ikan, bekerja sambil sekolah. Bahkan saat ujian akhir (Ebtanas) pun, Ibu harus memanggil untuk turun dari keramba karena ketiduran akibat lelah bekerja. Masih pada waktu SMA, sempat menjadi penarik becak di malam hari di Masohi selama beberapa bulan karena kalau siang hari malu juga (apalagi rumah si ex pas di depan jalan utama). Saya hanya ingin menemukan sensasi dan pengalaman bekerja sebagai penarik becak saja waktu itu (1994/1995). Pada suatu ketika, masih di SMA, saya harus melarikan diri ke Tehoru (Menuju Seram Timur) karena bermasalah dengan pihak keamanan. Kalau tawuran intra atau antar sekolah, jangan ditanya lagi. Pernah saya bersama seorang rekan bahkan ditangkap oleh beberapa anggota Kodim Masohi dan diserahkan ke Polisi karena menyerang Akademi Perawat yang ada di RSU Masohi.

Karena itulah, semua orang tidak percaya kalau saya memilih sekolah Teologi sebagai tempat labuhan akademis berikutnya. Tetapi itulah pekerjaan Tuhan. Di bangku kuliah, yang harusnya menjadikan diri ini semakin baik, ternyata tidak demikian adanya. Pernah diskors 1 semester (nilai 1 semester dibatalkan) gara-gara membantu teman-teman pada saat ujian (skors masal terhadap angkatan 1996, fak. Teologi UKIM). Saat itulah saya benar-benar jatuh mentalnya. Saat masuk kembali, kuliah saya sudah mulai berantakan. Hal yang paling berpengaruh baik secara fisik maupun psikis bagi saya sampai saat ini ada 2, yaitu saat saya harus terbaring koma selama beberapa saat karena terlibat perkelahian dan harus dikeroyok di dalam sebuah rumah ibadah di kawasan Waringin - Talake - Ambon pada 30 Agustus 1997 dan berikutnya adalah saat konflik Ambon dan terlibat dalam kekerasan-kekerasan di dalamnya.
Namun Tuhan Maha Besar, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi Hidup, sampai saat ini, sungai kehidupan ini masih tetap saja mengalir.

Selain kekacauan-kekacauan dan kebanditan-kebanditan itu, ada hal-hal baik yang saya pelajari dari semua orang yang bagi saya adalah rekan, guru, sahabat sejati. Dalam kesalahan ada teguran keras, tetapi dalam teguran keras itu ada pelajaran-pelajaran besar. Setelah lulus kuliah S1 (saya jalani selama 7 tahun), saya tidak ingin menunggu untuk vikaris, saya langsung berangkat ke Jogja, menjajal salah satu Program Studi yang baru dibuka oleh UGM, Perdamaian dan Resolusi Konflik. Sayang sekali, saya harus mengaku kalah karena aspek finansial. Ada pilihan lain yang harus segera dibuat untuk mentransformasi kekalahan itu menjadi kesempatan baru untuk kelak bertanding lagi. Tes CPNS di lingkungan Pendidikan Tinggi adalah pilihan yang diambil. Lulus, ditempatkan di Jayapura adalah tanda kemurahanNYA.

Pengalaman-pengalaman baik dan buruk itu telah menjadi kekuatan bagi saya untuk terus menghidupi kehidupan ini. Bagi saya, semua itu terjadi karena ada spirit yang asalnya dari DIA. Spirit itulah yang menjadi kekuatan untuk terus menjalani kehidupan dalam peluang dan tantangannya. Setelah berefleksi dan tersadarkan akan kekuatan yang hanya datang dari DIA, maka anakku akan kuberi nama "AR'EILY" yang harafiahnya berarti "Singa Allah" (Ibrani). Singa sebagai simbol kekuatan tetapi bukan kekuatan natural, melainkan "Kekuatan dari Allah". Karena itu, nama itu akan bermakna "KEKUATAN ALLAH".

Belum cukup juga dua nama penting itu bagi saya. Satunya berbahasa Rusia, satu lagi berbahasa Ibrani. Mesti ada nama yang bermakna bagi kehidupan saya tetapi datang dari bahasa Tanah, bahasa Seram, bahasa Maluku. Refleksi itu pun membawa saya pada pengalaman berkumpul bersama beberapa kakak, teman, sahabat di SERI sekitar tahun 2000-an. Saat itu kami membantu kegiatan Pertemuan PI se-GPM. Lahirlah ide brilian untuk menghadirkan media PI GPM oleh seorang sahabat (Pdt. Elifas Tomix Maspaitella). Awalnya nama yang diberikan untuk media itu adalah dalam bahasa Yunani. Pertanyaan sederhana saya waktu itu adalah: "Bu, katong mau ber-PI kontekstual tapi media ini masih pake nama Yunani, seng ada nama lain dalam bahasa tanah yang bisa menerjemahkan akang bahasa Yunani ni?" Sedikit tertegun, entah penasaran, berpikir, akhirnya tanpa bersuara diketiklah satu kata: "ASSAU". Kata dalam bahasa yang digunakan oleh orang-orang Nuaulu yang secara sederhana dapat diartikan sebagai "PEMBAWA BERITA". Assau adalah orang sekaligus fungsi penyampaian berita kepada komunitas dari para pemimpin komunitas. Assau fungsi hermeneutis masyarakat lokal. Dengan ingat akan pengalaman itu, maka salah satu nama bagi anak saya adalah "ASSAUW", bahasa yang digunakan orang Nuaulu, yang berarti "PEMBAWA BERITA".

Lengkap sudah namanya, seorang ANAMOFA yang adalah MATVEY, pemberian Allah, yang bertugas dalam hidupnya sebagai ASSAUW, pembawa berita, tentang AR'EILY, kekuatan-kekuatan dari Allah.

AR'EILY ASSAUW MATVEY ANAMOFA, itulah namanya. Diprediksikan dokter lahir pada 2 Desember 2011, bisa maju, bisa mundur, tergantung SANG DOKTER AGUNG.

Kamis, 27 Oktober 2011

Tuhan, T-Shirts dan Toleransi di Indonesia

Judul dari catatan saya di atas adalah pengindonesiaan dari judul salah satu tulisan dalam website DIAN/INTERFIDEI berjudul God, T-Shirts and Tolerance in Indonesia yang ditulis oleh Achmad Munjid, Presiden Komunitas NU di Amerika Utara, tentang alasan-alasan mengapa ada T-Shirts yang bertuliskan "GOD, WHAT IS YOUR RELIGION?". Saya mohon maaf kalau judul itu saya angkat, tetapi mengingat isi catatan ini terkait dengan T-Shirt itu, maka tak ada salahnya kalau ia ada di sana.

Singkat cerita .. !!

Baru saja selesai "Fun English Class" yang dikoordinir oleh seorang Dosen Tamu di kampus saya yang berasal dari Amerika Serikat. Kelas yang luar biasa tentunya.

Tanpa bermaksud apa-apa, saya datang dengan T-Shirt yang dikeluarkan oleh DIAN / INTERFIDEI, bertuliskan "GOD, WHAT IS YOUR RELIGION? dengan gambar wajah lugu seorang bayi terpampang di sana. Ketika tiba di kelas, beberapa orang telah hadir di sana, namun tidak ada yang sekaget Dosen Tamu dari Amerika itu saat membaca tulisan di T-Shirt saya. Ia bertanya dalam bahasa Inggris, "Jusuf, apa artinya tulisan itu?". Saya dengan santai menjawab, "Saya yakin anda tahu artinya". Tetapi setelah terdiam sesaat, saya berpikir bahwa yang ditanyakannya lebih dari sekedar arti yang biasa, tetapi alasan atau pemaknaan saya terhadap tulisan di T-Shirt itu. Saya pun menjelaskan dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar, "Ini adalah ekspresi tentang keberagamaan di Indonesia dimana banyak umat beragama hidup dalam sektarianisme yang berujung pada kekerasan." Ia kemudian menyatakan, "Oke, saya hanya orang biasa dan sederhana yang mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Tuhan." Saya langsung saja mengaminkan itu, tetapi menyatakan bahwa semua agama lain pun mempunyai keyakinan tentang seseorang yang merupakan "jalan" kepada Tuhan. Ia sepertinya masih belum puas dan mengutip pernyataan C.S. Lewis yang menulis novel Narnia itu, katanya, "C.S. Lewis bilang, kalau kita bicara tentang Yesus, maka hanya ada 3 hal yang diberitakan tentang Dia, yaitu: Yesus itu pembohong, Yesus itu orang gila, atau Yesus itu Tuhan". Sampai di situ, karena keterbatasan saya berbahasa Inggris, saya pun menjawab bahwa persoalan ini mesti dibicarakan dalam perspektif Filosofis atau Teologi Agama-Agama. Percakapan kami berakhir karena kelas harus segera dimulai. Kelas hari ini adalah tentang "The Kinds of Violence". Menarik ... !!!

Masalah ini memang menarik. Saya akhirnya menyesali kekurangan dalam berkata-kata dengan menggunakan Bahasa Inggris secara jelas dalam ranah Filsafat (Heheheeee ... kalau membaca buku2 filsafat yang berbahasa Inggris tentu lain ceritanya dengan berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Inggris seputar filsafat). Akhirnya saya mencari dan menemukan satu link menarik yang menulis tentang hal ini, yaitu "God, T-Shirts and Tolerance in Indonesia" yang ada di website DIAN/INTERFIDEI untuk di"sharing" kepada beliau. Bagi saya, salah satu faktor utama mengapa hal itu menjadi masalah adalah "Konteks keberagamaan Indonesia dengan Amerika berbeda sehingga ekspresi-ekspresinya pun berbeda."

Sabtu, 22 Oktober 2011

Home Sick, Sense Of Lost, Be Faithfull


Hari ini pertama kali saya mengikuti satu kelas Bahasa Inggris yang menyenangkan. Kelas diselenggarakan oleh Pak Allan dan istrinya, Catherine Mitch, para pelayan dari MCC yang diutus untuk melayani di STT GKI I.S. Kijne Jayapura. Para peserta kelas itu adalah siapa saja yang tertarik belajar Bahasa Inggris dalam suasana yang menarik. Bertepatan dengan pertama kali keikutsertaan saya, datang 2 (dua) orang muda, berumur sekitar 20 tahun, yang laki-laki dari Kanada dan Perempuan dari Honduras, bergabung dengan kami. Mereka baru 1 (satu) minggu berada di Papua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dari lembaga-lembaga yang mengutus mereka.

Seperti biasa, orang-orang yang baru bertemu saling berkenalan dan bercerita tentang diri mereka, kami pun saling bercerita beberapa hal yang dapat membuat kami saling mengenal di awal perjumpaan. Hal yang menarik adalah kedua orang muda ini bercerita tentang 1 (satu) tema, Home Sick (rindu rumah). Kalau yang laki-laki bercerita bahwa ini adalah kedua kalinya ia merasakan home sick saat berada jauh dari rumah, maka yang perempuan bercerita tentang bagaimana ia merasakan itu. Menurutnya, hari pertama tiba di Papua, ia merasa seorang diri, tak ada teman dan saudara. Hari kedua, ia masih merasa kesepian tetapi mulai berjumpa dengan orang lain. Hari ketiga, perasaan itu masih tetap ada, tetapi ia mulai membiasakan diri ada dalam lingkungan yang baru dengan teman-teman yang baru, dan sampai saat pertemuan kami tadi, sepertinya ia sudah merasa tidak sendiri dan kesepian lagi. 

Saat sharing, Pak Allan mengatakan bahwa home sick adalah perasaan yang sangat manusiawi dan dapat terjadi kepada siapa saja yang berada jauh dari lingkungan keluarga. Bagi beberapa orang muda, memang lebih berat, tetapi hal semacam itu dapat diatasi seiring waktu. Satu hal yang kadang membuat orang yang datang dari Eropa atau Amerika mengalami home sick adalah perbedaan dalam hal cepat lambatnya aktifitas. Kalau di tempat asal mereka, aktifitas terjadi begitu cepat, sementara di Papua, aktifitas tergolong lambat.

Satu istilah menarik dari percakapan tentang home sick itu adalah sense of lost. Rasa kehilangan terhadap sesuatu yang dimiliki ketika tidak ada lagi dalam batas pandangan atau genggaman kita dan kita ingin kembali ke dalam pengalaman-pengalaman itu. Sense of lost itulah yang dirasakan oleh mereka ketika pertama kali menginjakkan Papua. Namun, hal itu akan disembuhkan seiring waktu. Tentu saja salah satu kapasitas utama manusia dan seluruh makhluk hidup adalah beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi.

Sungguh suatu bahan refleksi yang sangat dalam ketika bicara tentang sense of lost. Sebagian besar manusia pada satu titik pasti berada pada situasi yang dapat didefinisikan sebagai sense of lost. Terhadap seluruh hal yang secara empiris dialaminya seperti keluarga, teman, kerabat, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi sense of lost itu dapat menggambarkan situasi yang non-empiris? Pertanyaan ini diangkat ketika saya membayangkan suatu keadaan keterputusan manusia dengan situasi ideal, lebih lagi keterputusannya dengan Sang Ilahi. Apakah sense of lost dalam kaitan dengan Yang Ilahi dapat dirasakan dengan mendalam, sebagaimana yang dirasakan ketika manusia merasa home sick

Saya mencoba mencari dasar bagi pertanyaan itu dalam bacaan terhadap kitab suci dan menemukan satu kalimat, “Eli, Eli, Lama Sabaktani, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saya membayangkan bahwa saat meneriakkan kalimat itu, Yesus yang sementara tersalib merasakan situasi sense of lost yang luar biasa. Situasi kehilangan yang luar biasa terhadap ideal kehidupan manusia yang harusnya berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Namun, sense of lost itu tentu saja bukan kehilangan tanpa arti. Seperti yang dimengerti dalam kerangka home sick kedua teman baru di atas, sense of lost itu adalah perasaan kehilangan yang pada satu sisi menuntun mereka untuk kembali pada pengalaman-pengalaman kebersamaan sebelumnya, di sisi lain semakin menguatkan mereka untuk berjumpa dengan pengalaman-pengalaman yang baru. Sense of lost Yesus mengarahkan Dia untuk ada dalam pengalaman-pengalaman berikutnya. 

Kalau Yesus yang adalah teladan diceritakan mengalami sense of lost yang luar biasa, bagaimana dengan kita? Saya telah menyatakan bahwa kondisi ini pasti dialami oleh sebagian besar manusia. Kita tidak bisa menghindarinya karena memang demikian adanya. Dapat dikatakan bahwa hakekat kehidupan manusia adalah mengalami perjumpaan-perjumpaan sekaligus perpisahan-perpisahan. Menariknya adalah ketika baik perjumpaan maupun perpisahan itu terjadi dalam kerangka iman. Artinya, semua itu direfleksikan dalam keyakinan yang sungguh tentang apa yang harus dibuat sebagai jawaban atas pengutusan Sang Ilahi bagi kita di dalam dunia. Bagi saya, menjadikan kondisi kehilangan sebagai salah satu cara membesarkan diri adalah jalan yang beriman. Tuhan tetap mengerjakan bagiannya dalam perjumpaan-perjumpaan dan perpisahan-perpisahan yang kita alami, bagaimana kita mengerjakan bagian kita adalah persoalan iman.

Ini hanya sepenggal ekspresi dari refleksi atas perjumpaan dengan beberapa rekan yang juga merasakan beratnya perpisahan. Harapannya adalah kita, manusia, saling berbagi pengalaman tentang hal-hal yang menguatkan. Semoga Tuhan menolong kita.

Selasa, 20 September 2011

Provokasi Damai Dalam Perspektif "Social Traps"

Hari ini, seorang temanku menulisi damai dalam perspektif “problem of trust”. Saling percaya telah menjadi faktor penentu bagi perjumpaan-perjumpaan yang melampaui identitas-identitas komunal-religi. Ketika membaca tulisan beberapa rekan di Ambon tentang situasi terakhir pasca “bentrok massa” 9/11 yang berangsur damai, saya ikut bersyukur sekaligus merenung. Apakah hal itu akan sementara saja atau akan berlangsung terus di pulau yang manise itu. Tulisan-tulisan yang bernas itu telah menjadi provokasi damai yang menggugah.

Damai, entah dalam pengertiannya yang negatif (tiadanya perang dan atau kekerasan fisik) atau dalam pengertiannya yang positif (adil, sejahtera, makmur, sentosa, dll.) tetap saja menjadi impian. Ada teman yang menyatakan bahwa damai akan lebih bermakna bagi masyarakat yang pernah merasakan perang, konflik, rusuh, dll. Kalau soal makna, tentu tak dapat disalahkan.

Perenungan saya tiba pada sedikit keyakinan bahwa semua rekan di Ambon telah mulai berhasil keluar dari “perangkap sosial (Social Trap) situasi mereka. Social trap adalah istilah di bidang psikologi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Platt pada tahun 1973. Istilah itu adalah metafora bagi situasi-situasi di mana para aktor sosial mengambil keputusan yang ditentukan oleh penilaian terhadap tindakan-tindakan aktor-aktor yang lain di masa depan. Hal itu sangat berhubungan dengan keputusan untuk saling percaya dan bekerjasama dalam suatu situasi.

Secara sederhana, logika sosial trap adalah sebagai berikut (Rothstein, 2005:12):
  1. Situasi di mana “tiap orang” diuntungkan karena “tiap orang” memilih untuk bekerjasama.

  2. Tetapi, jika “seseorang” tidak percaya bahwa “orang lain” dapat bekerjasama, maka tak ada artinya memilih untuk bekerjasama karena suatu kerjasama sangat tergantung dari pilihan bekerjasama semua pihak.

  3. Jadi, “tidak bekerjasama” adalah pilihan bagi “orang-orang” yang “percaya” bahwa “pihak lain” tidak dapat bekerjasama.

  4. Kerjasama yang efisien untuk tujuan bersama hanya dimungkinkan jika “tiap orang” percaya bahwa “orang lain” juga akan memilih untuk bekerjasama untuk hal itu.

  5. Dengan tiadanya kepercayaan itu, maka social trap (perangkap sosial) akan langsung tertutup dan berakhir dengan buruk bagi “semua orang”, walaupun ada kesadaran bahwa ada keuntungan-keuntungan tertentu ketika memilih bekerjasama.
Ada beberapa dasar teoretis yang digunakan mendukung konsep ini, di antaranya adalah tindakan ekonomi politis yang strategis mengasumsikan bahwa “apa yang orang kerjakan sangat tergantung pada kepercayaan tentang apa yang orang lain akan kerjakan”. Selain itu, yang cukup penting adalah kemungkinan untuk keluar dari social trap itu dibatasi oleh fakta bahwa manusia secara rasional tidak dapat memutuskan untuk melupakan sesuatu. Artinya, dalam perspektif psikologis, perangkap sosial mengindikasikan bahwa pilihan terhadap ingatan dan pelupaan dalam memori tidak dapat ditentukan secara rasional. Dalam kasus Ambon 1999 - 2004, dapat saja orang “mengatakan” bahwa: “marilah kita melupakan apa yang terjadi dan hidup damai”, tetapi secara rasional, orang tidak dapat melakukan pilihan untuk langsung menghapus ingatan itu dari memorinya.

Dari logika dan indikasi-indikasi di atas, dapat dimengerti betapa seriusnya masalah social trap dalam kehidupan masyarakat. Indonesia, khususnya di Maluku telah pernah ada dalam perangkap sosial itu. Salah satu contoh adalah ketika orang-orang yang memegang kontrol terhadap arus informasi menyebarkan informasi yang saling menyudutkan. Sekali masuk dalam strategi yang didasarkan pada ketidakpercayaan, maka pintu perangkap akan tertutup dan sulit bagi orang untuk keluar. Hal itu lebih disebabkan karena adanya kesulitan tersendiri bagi orang-orang yang tidak saling percaya dalam waktu yang lama untuk membangun rasa saling percaya kembali dengan meyakini bahwa pihak lain pasti akan bekerjasama dalam tujuan bersama.

Walaupun demikian, secara rasional pula, dapat dikemukakan bahwa rasionalitas individual ikut menentukan rasionalitas masyarakat. Kunci untuk membuka pintu perangkap sosial, salah satunya adalah dengan mengandalkan dan atau mempercayakan rasionalitas individual memainkan peranannya. Individu-individu rasional yang membangun rasa percaya baru setelah sekian lama ada dalam komunitas yang tidak saling percaya dapat menjadi provokator damai. Individu-individu rasional itu pula yang dapat membuka pintu perangkap sehingga perlahan-lahan tercipta masyarakat yang secara rasional saling percaya yang berdampak pada kerjasama dengan tujuan bersama.

Terkait itu, individu-individu rasional itulah yang saya temukan dalam diri rekan-rekan yang selalu menulis tiap pengalaman perjumpaan yang melampaui rasa ketidakpercayaan itu. Tiap tulisan yang adalah provokasi damai itu perlahan namun pasti akan membuka pintu perangkap dan membebaskan masyarakat, khususnya di Ambon untuk kembali dalam rasa saling percaya.

Bagi saya, dipandang dari perspektif apapun, damai tetap lebih indah.
Bagi kalian yang telah menjadi provokator damai, terima kasih banyak karena ikut membentuk rasionalitas saya.

Referensi:
Rothstein, Bo, 2005, Social Traps and the Problem of Trust, NY: Cambridge University Press.

Tentang Penis dan Selaput Dara

Alkisah, si A dan si B sama-sama laki-laki. "Darimana anda tahu mereka sama-sama laki-laki?" Ya itu, mereka sama-sama punya Penis. Mereka manusia yang punya akal, mereka laki-laki yang punya Penis. Mereka sama-sama dikaruniai sifat ingin tahu, karena berakal, dan alat untuk memenuhi keingintahuan itu, yaitu berPenis.

Pada titik tertentu, si A dan si B telah memperoleh banyak kebenaran tentang Penisnya. Secara koherensif, dan korespondensif, Penis itu sama dengan penis-penis sebelumnya. Secara pragmatis, fungsi Penisnya adalah untuk menembus Selaput Dara, untuk tahu apa yang ada di baliknya. Tentu tidak perlu ditutupi karena itu adalah common sense. Semua orang juga tahu itu.

Setelah keingintahuan itu terjawab, apa yang terjadi?

Sumber: www.pixabay.com
Tidak cukup sampai di situ, si A memang menerima bentuk dan fungsi Penisnya, tetapi masih ada spirit lain yang mengganjal. Keingintahuan tentang apa yang ada di balik Selaput Dara mitologi yang dijaga ketat oleh penganut kreasioner. Lapisan atmosfir bumi adalah Selaput Dara baru yang perlu ditembus. Palung laut terdalam pun menjadi Selaput Dara lain yang harus ditembusi. Keinginan-keinginan itu sungguh kuat sehingga diimajinasikanlah Penis buatan yang berfungsi menembus, melampaui Selaput Dara itu. Roket pun diciptakan, menurut gambar dan rupa Penis sebagai bentuk kecerdasan. Penjelajahan ruang angkasa dimulai. Kapal Selam juga diciptakan menurut gambar dan rupa Penis. Penjelajahan laut dalam dimulailah. Seluruh isinya diteropong, menghasilkan pengetahuan baru. Kalau tanpa bantuan Roket dan Kapal Selam yang diimajinasikan berdasarkan bentuk dan fungsi Penis, tak mungkinlah dapat seperti itu.

Sumber: www.pixabay.com
Bagaimana dengan si B? Sayangnya, dia masih suka main-main dengan Penis originalnya. Menembus ke sana ke mari dengan alasan mencari tahu di balik Selaput Dara original. Dia masih hidup dalam bayang-bayang mitologi dan ideologi tentang sang Penis yang tak bisa salah karena pengetahuan dan kecerdasan satu-satunya hanyalah tentang Selaput Dara perempuan.

Si A dan si B, sama-sama punya Penis, sama-sama tahu kebenaran dan fungsinya. Tetapi karena beda habitus, si A dapat menciptakan sebentuk Penis yang lain (Roket dan Kapal Selam) untuk membantu meneropong guna menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan: "ada apa di balik Selaput Dara semesta?" Sementara si B, tak sedetikpun berpikir melampaui kepunyaannya, masih terus meneropong dan bertanya: "Ada apa di balik Selaput Dara di dalam Rok Mini dan Celana Perempuan?"

Damai = Tenunan Akal Sehat dan Jiwa-Jiwa Penuh Cinta

Hampir tigabelas jam tidak tertidur, hanya coba merenung setelah menyimak beberapa pandangan. Seorang teman di jejaring sosial menyatakan: “Agama yang dogmatis akan membuat manusia malas berpikir dan mematikan keingintahuan”. Belum habis perenungan, muncul lagi pandangan yang menggugah soal “Merawat Indonesia Dengan Akal Sehat” dari seorang pemikir Indonesia. Di akhir pidato budayanya, ia menyatakan tentang keinginannya agar di hari-hari yang akan datang, politik diselenggarakan dengan kekuatan argumen, bukan kumpulan sentimen. Subuh hari ini, membaca lagi pemikiran berdasar pengalaman berharga seorang teman di sudut Ambon yang mengalami “sedikit rusuh” beberapa waktu lalu yang menulis tentang bagaimana cinta diprovokasikan oleh orang-orang yang menjadi korban.

Seharian ini, ada tiga pandangan yang betul-betul mengimpresi indra, merasuki otak dan memaksa diri agar jangan dulu menutup mata untuk tidur, tetapi berefleksi dan berekspresi sebelum semua kabur terbawa mimpi. Agama yang tidak dogmatis, merawat Indonesia dengan kekuatan argumentasi dan bukan sekumpulan sentimen, pengalaman korban rusuh di Ambon yang memprovokasikan cinta, bukan benci adalah helai-helai benang yang mesti dirajut, ditenun menjadi “kain Indonesia yang bermotif damai”.

Bicara tentang menenun kain, saya dibesarkan dalam lingkungan yang tahu betul cara-caranya walaupun masih level tradisional. Saya tahu bahwa tenun ikat dengan motif yang indah itu berasal dari beberapa butir biji kapas yang disemai, setelah tumbuh dipelihara selama beberapa waktu, ditunggu saatnya berbunga, dipilah dan dipilih, dilepas serat-serat dari bijinya, biji disemai lagi, serat dihaluskan, dijadikan benang, diwarnai dengan pewarna alami, diikat dalam tenunan dengan motif hasil imajinasi yang tertuang setelah kain itu jadi.

Tak ada analogi lain selain yang lekat dengan keseharian saya masa kecil untuk membicarakan damai lewat impresi delapan belas jam ini. Agama yang transformatif, yang mampu mengubah dunia tetapi tidak menolak untuk mengubah diri sendiri atas dasar kemanusiaan, kekuatan argumentasi yang lahir dari akal sehat untuk merawat Indonesia, bukan kumpulan sentimen apalagi antipati atas dasar benci dan kerja-kerja mengagumkan dari tubuh-tubuh yang berkepala dingin dan jiwa-jiwa penuh cinta, meski sadar bahwa dirinya adalah korban, mesti dirajut dan ditenun.

Bagi saya, setiap orang yang berbudaya dan cinta Indonesia, memiliki dua tugas besar: (1) Menjadi salah satu benang dalam rajutan damai itu; (2) Ikut merajut benang-benang pemikiran, perasaan, kerja yang penuh cinta dan berdasar akal sehat, yang mengimpresi diri dalam pengalaman keseharian menjadi suatu “kain Indonesia dengan motif damai”.

Nyanyian Jemaat GPM No. 36. "Saat Ini"