Selasa, 07 Februari 2012

Kisah 17 Januari 2012 bersama "para pejuang cilik" di Pesisir Seram Selatan


Kemarin (17 Januari 2012), beta pulang ke Amahei. Karena sudah setahun tidak pulang ke sana (tahun lalu bersama istri pulang ke sana lewat jalan darat: Ambon – Kairatu – Masohi), beta ambil kesempatan untuk nikmati perjalanan lewat darat lagi. Kebetulan lagi musim buah durian di Ambon dan sekitarnya, beta berharap dalam perjalanan ke Masohi bisa makan durian di tengah perjalanan. Ternyata harapan itu tidak terwujud sama sekali karena tak ada satu pohon durian pun yang menampakkan buahnya di sepanjang jalan antara Kairatu – Masohi.

Tulisan ini bukan tentang kandasnya harapan karena tidak bisa menikmati buah durian. Tulisan ini dibuat sebagai penghargaan terhadap perjuangan menggapai harapan dari tiga anak kecil (dan banyak anak lainnya) di pesisir Seram Selatan.

Singkat kata, dengan didukung oleh cuaca yang cerah, beta tiba di dermaga ferry Waipirit. Perlahan beta memacu sepeda motor menuju Masohi. Setelah lepas dari Kota Kairatu, beta sedikit memacu kendaraan dengan harapan tidak terlalu lama berada di perjalanan, selain harapan awal di atas. Setelah melewati beberapa negeri, beta tiba di Negeri Sanahu bertepatan dengan anak-anak SD pulang sekolah. Karena banyaknya anak, beta memperlambat jalan kendaraan sambil memperhatikan tingkah laku mereka. Ada yang masih cerah ceria, ada yang sudah lelah dan dengan guntainya mengayun langkah. Menariknya adalah terhadap setiap kendaraan yang lewat ke arah Masohi (ada beberapa sepeda motor yang mengekori beta), sebagian besar dari mereka mengacungkan jarinya minta tumpangan, termasuk kepada beta. Sayang sekali, tidak ada yang mau berhenti untuk mereka. Sebagian besar pengendara itu berlalu dengan klakson panjang agar tidak dihalangi jalannya. Beta pun dengan sedikit menyesal tidak bisa memberikan tumpangan. Bukan karena beban atau barang bawaan yang banyak, memenuhi kendaraan, tetapi karena yang mengacungkan jarinya ke arah beta lebih dari sepuluh orang. Beta sendiri tidak sampai hati kalau hanya mengangkut satu atau dua orang dan meninggalkan yang lain. Dengan berat hati, beta tetap melaju dengan kecepatan rendah melewati rombongan demi rombongan anak-anak itu. Dalam pikiran beta, “andai saja semua pengendara yang telah lewat memberikan tumpangan, paling kurang sudah sekitar 20 anak terangkut ke tujuan mereka”. Tetapi sepertinya itu bukan kebiasaan para pengendara di pesisir pantai Selatan Seram ini.

Tidak terlalu jauh dari rombongan besar, mungkin sekitar lima ratus meter, ada empat orang anak laki-laki yang juga mengacungkan jari mereka sambil teriak, “oom, numpang oom, oom, numpang oom.” Dalam pertimbangan yang cukup cepat, beta berhenti sekitar sepuluh meter dan mereka berlari mendapati beta untuk meyakinkan diri bahwa beta memang berhenti untuk memberikan tumpangan bagi mereka, “oom, katong bisa manumpang ka?”, “ke mana?” tanya beta, “ke Pohon Batu” dengan serempak mereka menjawab. “Iyo sudah, naik sudah”, beta mempersilahkan mereka berempat untuk berdesak-desakan di belakang sepeda motor yang kecil itu. Ternyata hanya tiga orang yang hendak menumpangi kendaraan beta, sementara yang satunya sudah kelihatan rumahnya. 

Di tengah perjalanan, beta bercakap-cakap dengan mereka bertiga. “Pohon Batu jauh dari Sanahu ka?”, beta membuka percakapan. “Dekat saja oom, di muka saja. Barang oom seng tahu ka?”, seorang anak yang paling rapat dengan tubuh beta menjawab seketika. “Iyo, beta jarang lewat sini, beta jua seng hapal jarak Sanahu deng Pohon Batu”, beta kembali menerangkan kepada mereka. “Ade dong tiap hari pigi skolah jalan kaki ka?”, beta kembali bertanya. “Iya oom, bajalang kaki jua, katong samua bajalang kaki.” Dalam hati beta, “ah, pasti dekat saja Pohon Batu dengan Sanahu.” Beta perhatikan jarum penunjuk kecepatan dan jarak, sudah hampir satu kilometer. Beta kembali bertanya, “eh, masih jauh ka?”, seorang yang lain dengan cepat menjawab, “su dekat oom, di muka saja!!” seolah takut diturunkan. Dengan santai beta jalankan sepeda motor sambil terus memperhatikan speedometer. Ketika angka sudah menunjukkan bahwa kami telah melewati hampir dua kilometer, beta kembali bertanya, “heiii … tadi bilang kata su dekat, ini su amper dua kilo katong balong sampe lai??”, “seng oom, lewat jombatang di muka tu saja lalu Pohon Batu ..!!” Ternyata, jembatan yang dibilang anak itu masih hampir satu kilo lagi. Benar saja, setelah melewati jembatan itu, tidak lama kami tiba di Pohon Batu. Ternyata, Pohon Batu itu adalah dusun dari Negeri Sanahu yang terletak di kaki Pohon Batu, satu bukit batu terjal yang harus dilewati dalam perjalanan dari Kairatu ke Masohi atau sebaliknya.

Hitung punya hitung, perjalanan yang kami tempuh hampir empat kilometer (mudah-mudahan speedometer dan mata beta tidak saling menipu untuk ini). Ketika tiba dusun itu, beberapa orang tua yang sementara duduk di teras rumah melihat kami dan mengembangkan senyum mereka sambil meneriakkan ucapan terima kasih. Ketiga anak itu pun dengan tangkasnya turun dari sepeda motor, mengucapkan terima kasih dan hendak berlalu. “Ehhhhh … sabar dolo ..! Beta balong tau dong tiga pung nama. Ale nama sapa?” tanya beta sambil menunjuk yang paling kecil. “Mario oom ..”, “kalo ale?”, “Semuel oom ..”, “lalu, ale nama sapa?”, tanya beta kepada yang paling jauh. “Beta Jeky oom ..”, jawabnya. “Ok, hati-hati eee … sk’olah bae-bae .. !!!”, pesan singkat beta untuk Mario, Semuel, dan Jeky.

Setelah meninggalkan mereka bertiga dan dusun mereka, beta terus berpikir tentang perjuangan mereka memperoleh pendidikan. Syukurlah, hari ini mereka bertiga dapat menumpang motor beta sementara Mario-Mario, Semuel-Semuel, Jeky-Jeky yang lain mungkin sekitar 1 jam lagi baru tiba di rumah mereka di Pohon Batu.

Semangat mereka menuntut ilmu mengalahkan keletihan dan kepenatan menempuh hampir delapan kilometer pulang pergi sekolah. 

Banyak tanya berkecamuk dalam benak tentang adakah kemungkinan-kemungkinan bagi mereka untuk diperhatikan oleh pemerintah atau pihak-pihak yang berwenang dengan pendidikan anak-anak bangsa. Atau yang lebih sederhana, “koq tidak ada satu pun pengendara motor yang mau berhenti untuk sekedar memberikan tumpangan sejauh tiga kilometer lebih kepada anak-anak sekolah ini?” Mengingat itu, beta kembali berpikir tentang matinya rasa dan hati nurani ketika raga masih bergerak. 

Anak-anak sebenarnya tidak pernah melakukan dengan baik dan benar apa yang dikatakan oleh orang tua atau orang dewasa. Mereka akan melakukan dengan sangat baik dan sangat benar apa yang dikerjakan oleh orang tua atau orang dewasa. Bertolak dari situ, beta sedikit menghibur diri karena sudah memberikan contoh kecil bagi Mario, Semuel, dan Jeky tentang pentingnya saling menolong, terhadap orang-orang yang tidak kita kenal sekalipun. Banyak orang akan takut dan curiga terhadap pendapat ini, karena berhadapan dengan orang asing bukanlah hal yang mudah. Tetapi bagi beta, dengan membuka diri untuk berhadapan kemudian berdampingan dengan tulus, maka kehidupan akan lebih indah. 

Semoga Tuhan mau kuatkan Mario, Semuel, dan Jeky (juga semua anak seperti mereka bertiga) di Pohon Batu sana  …

Rabu, 28 Desember 2011

Natal, Sampah, Sampah Natal

Menginjakkan langkah kehidupan di penghujung tahun 2011, ada sukacita tersendiri. Sukacita dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir di Ambon. Hal itu juga yang menyebabkan saya harus ke Ambon dan berada di sini saat perayaan Natal 2011 dan memasuki Tahun Baru 2012. Tinggal di rumah oma adalah pilihan karena ada cukup banyak tenaga yang bisa menolong kami saat kesulitan mengurusi anak pertama kami.

Rumah yang berada di Lateri 3 itu cukup memberikan pandangan yang bagus ke arah laut karena berada di ketinggian. Posisi itu saya manfaatkan untuk menikmati pantai sekitar teluk dalam sampai ke arah Negeri Lama dengan rimbunan hutan bakau. Asyiknya adalah bila saat air laut surut, ada banyak titik-titik putih di atas pasir lumpur yang tentu saja bisa terbang. Titik-titik putih itu adalah burung-burung bangau laut yang sedang mencari makan sepanjang garis pantai.


Kisah titik-titik putih itu ternyata hanya sampai dengan tanggal 26 Desember 2011. Saya terkaget-kaget ketika ingin menikmati surutnya air laut di tanggal 27 Desember ini, titik-titik putih bertambah banyak, tetapi sayangnya titik-titik putih kali ini tidak bisa terbang. Tidak puas dengan pandangan mata yang kadang bisa menipu (Platonis kah ...?? xixixii) saya mencoba mencari bantuan dari lensa kamera saya yang cukup menangkap realitas di kejauhan itu. Ternyata, titik-titik putih itu adalah sampah-sampah plastik (saya sangat yakin kalau itu adalah bekas minuman). Sepanjang mata memandang lewat lensa kamera, yang ada di garis pantai teluk dalam, khususnya dari Lateri 3 sampai ke arah Negeri Lama hanyalah sampah plastik berserakan. Ada satu atau dua burung bangau yang terbang, tetapi terkalahkan oleh latar belakang sehingga kalau tidak diperhatikan dengan seksama, burung-burung itu pun akan dianggap seonggok sampah.

Tercengang seakan tidak percaya, saya teringat perjalanan pulang dari bandara ke rumah ketika menggunakan jasa mobil angkutan bandara. Dalam perjalanan, sopir mobil dengan seenaknya melemparkan botol air mineral yang telah habis isinya ke pinggir jalan lewat jendela mobil. Saya ingin bertanya, tetapi karena capek melewati perjalanan panjang Jayapura - Makassar - Ambon, saya biarkan saja. Pemandangan serupa dalam hari yang sama saya temui sebanyak 4 kali sepanjang jalan Bandara Pattimura - Lateri. Mirisnya, botol-botol plastik itu keluar dari jendela-jendela mobil berplat hitam.

Waktu itu, hati saya telah sedikit digelitik perasaan gundah melihat perilaku "nyampah" di jalanan, tetapi belum juga mau menuangkannya dalam sepenggal refleksi ini. Pikir saya, itu hanya tindakan satu atau dua orang yang bersikap apatis dengan lingkungan.

Saat ibadah persiapan natal, saya kembali diingatkan dengan peristiwa itu ketika salah satu bagian liturgi natal yang diterbitkan oleh Sinode Gereja Protestan Maluku menampilkan hubungan antara manusia dan lingkungannya lewat permohonan ampun dari Tuhan karena "membuang sampah sembarangan".

Seorang teman mengatakan, "Natal adalah moment 'bakudapa' (=perjumpaan), sekaligus 'bakubae' (= pendamaian)". Sayang sekali, moment itu hanya dimaknai sebatas hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesama manusia saja. Dalam arti, Tuhan turun ke bumi dalam rupa manusia, 'bakudapa' dengan manusia dalam rangka 'bakubae' karena terlalu lama manusia hidup dalam dosa. Jadi, natal adalah inisiatif Tuhan, bukan manusia. Sebagai respons atas inisiatif itu, manusia mesti 'bakudapa' dengan sesamanya dalam rangka 'bakubae'.

Yang terlupa dari refleksi 'bakudapa' dan 'bakubae' itu adalah ada dimensi yang menyatu dengan kehidupan manusia karena manusia adalah bagian darinya, yaitu lingkungan / alam yang melingkupi (di mana manusia hidup). Dimensi ini hampir selalu terabaikan, atau kalau tidak, hanyalah mantra-mantra tak berguna dalam ritual-ritual semata. Tindakan 'bakudapa' dan 'bakubae' itu belum melampaui hubungan antara manusia dengan manusia. Kalau saja refleksi tindakan 'bakudapa' dan 'bakubae' itu adalah respons manusia atas inisiatif Tuhan untuk 'bakudapa' dan 'bakubae' dengan manusia, maka tindakan 'bakudapa' dan 'bakubae' itu mesti juga meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk didalamnya 'bakudapa' dan 'bakubae' dengan lingkungan alam hidupnya.

Kenyataan yang saya tangkap lewat mata kamera itu memberikan sedikit penjelasan bahwa natal tahun 2011 ini, umat yang merayakannya di Ambon belum benar-benar merespons tindakan Tuhan itu karena pengertian yang masih terbatas pada perjumpaan dan pendamaian antara sesama manusia. Sedikit penafsiran itu semakin jelas ketika natal menjadi peristiwa yang seakan "melegalkan" nafsu belanja. Penghasilan setahun dihabiskan (bahkan bisa juga hutang terjadi) saat natal. Selain belanja besar-besaran, pesta-pesta pun dibuat dengan dibungkus oleh 'semangat' natal yang hampir tidak jelas lagi. Salah satu faktor ikutannya adalah konsumsi natal yang berlebihan, melampaui konsumsi hari-hari biasa. Konsumsi berlebihan di saat Natal itu, menurut saya, menjadi faktor utama 'semaraknya' titik-titik putih peninggalan perayaan natal 2011 di sekitar garis pantai Lateri sampai Negeri Lama.

Tanya mengapa? Kalau ada rekan-rekan yang dapat mengingat-ingat natal yang kita rayakan sekitar sebelum tahun 2000-an, air yang kita minum adalah air rebusan yang disajikan di gelas kaca, pinjaman dari yang punya gelas. Kalaupun ada makan-makan, piring yang kita gunakan adalah piring kaca, juga pinjaman. Setelah pesta natal selesai, piring-piring dan gelas-gelas itu dicuci bersih, dimasukkan lagi ke dalam kotaknya, untuk nanti dipinjam lagi kalau ada pesta-pesta, termasuk pesta natal. Sekarang, pesta-pesta natal kita menggunakan air kemasan yang gelasnya terbuat dari plastik, habis minum, plastik itu dibuang. Cilakanya, orang Ambon bilang "bai kalo katong minong satu galas saja (satu galas air kemasan seng sampe par tutup aus), kalo satu orang minong barang 2-3 galas?" (biasanya 1 orang minum lebih dari 1 gelas air kemasan). Itu artinya, saat pesta natal saja, satu orang menghasilkan sampah plastik bekas air kemasan rata-rata 2. Dapatkah dikalikan dengan berapa jumlah orang, juga berapa jumlah pesta yang dilakukan selama masa natal itu? Selain gelas bekas air kemasan, piring-piring makan sekarang bukan lagi piring kaca yang dapat dicuci dan dikembalikan untuk dipakai lagi, tetapi piring-piring kemasan dalam bentuk plastik atau stirofoam putih yang sehabis dipakai, langsung dibuang (kalo soal makan, mungkin ada yang lebih dari satu?). Bagi saya, penggunaan material sekali pakai itu, ketika tidak dibarengi dengan kesadaran lingkungan yang tinggi, akan berujung pada pencemaran yang tidak disadari.

Kalau ada yang bertanya atau menggugat refleksi ini, mari kita gugat dalam tindakan nyata. Saya sedikit bermimpi agar ada semacam gerakan pembersihan lingkungan khususnya di sepanjang garis pantai Teluk Dalam. Para pemuda gereja bisa berperan di situ, daripada cuma membatasi diri dalam ritual-ritual yang memakan anggaran belanja namun ide-ide bernas yang mesti diwujudkan dalam tindakan nyata jarang muncul dari sana. Saya ingin mengajak semua rekan untuk berhenti sesaat "worshipping Jesus / praise for Jesus" dan mulai bertindak "Following Jesus / act like Jesus". Bukankah Cabang-Cabang dan Ranting-Ranting AMGPM tersebar sepanjang garis pantai itu? Atau mau lebih besar lagi, bukankah Jemaat-Jemaat GPM tersebar sepanjang garis pantai itu?. Jangan cuma mau "menyampah", tetapi mulailah bertindak membersihkan sampah. Idenya adalah menjadikan sepanjang garis pantai Teluk Dalam sebagai medan pelayanan Pemuda Gereja (Medan Pelayanan Gereja - dimulai dari GPM).

Mohon maaf, ini hanyalah refleksi saya yang seorang musafir. Mungkin di awal 2012 sudah kembali ke tempat tugas di Papua, tetapi harapannya adalah pokok pikiran dari refleksi ini dapat menjadi ide bersama untuk 'bakubae' bukan saja dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam tempat hidup manusia.

Semoga Tuhan sayang kita semua dan menguatkan untuk kerja-kerja kita di Tahun 2012.

Rabu, 23 November 2011

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Hari ini ada sedikit kegundahan karena istri dikabarkan sudah masuk rumah sakit, bersiap untuk melahirkan, sementara tiket Jayapura - Ambon yang didapat hanya untuk hari Jumat. Iseng-iseng, kubuka lagi daftar kiriman e-mailku dan kudapati satu tulisan yang kukirim kepada beberapa teman, hampir 6 tahun silam.

SURAT BUAT ANAK-ANAK MALUKU

Surat ini aku tulis dalam keheningan yang mendalam,
di bawah sinar bulan dan cerahnya malam.
Belum pernah kulihat malam secarah ini.
Mungkin di tempat lain, tetapi tidak di tanah kita.

Surat ini aku tulis dalam kesyahduan malam,
dibarengi titik air mata karena kesedihan yang melanda,
mengingat masa-masa di mana kami meradang . . . merana
tak kuasa menahan amarah yang berbuah petaka

Surat ini aku tulis dalam harapan berlapis gundah
penyesalan tak henti atas noda besar yang kami buat dalam sejarah tanah kita,
dan ingin memohon maaf, wariskan negeri yang tak lagi indah.

Surat ini aku tulis agar kalian tak lupa,
bahwa "katong samua basudara", "potong di kuku, rasa di daging", "ale rasa, beta rasa", walaupun ada juga yang seperti pedang bermata dua.

Aku sadar, kalian tak bisa lagi tatapi megahnya Gereja Tua di Negeri Hila yang harus hancur dilanda angkara,  atau nikmati semaraknya festival tahunan Taman Hiburan Remaja di pesisir Waihaong, karena yang ada disana kini hanyalah kuburan para Syuhada.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang teman dan sahabat yang mati satu per satu sia-sia,
tentang saudara dan keluarga yang meregang nyawa tak bersalah,
tentang rumah dan tempat ibadah yang kami hancurkan bersama semua yang ada di dalamnya,
tentang kebun dan ladang yang kami jarah, dan tentang sekolah, rumah sakit dan banyak lagi yang kami bakar dan akhirnya musnah, seakan semua punya salah,
tentang ribuan orang yang terpaksa lari tinggalkan tanah tumpah darah, tak tahu kapan harus kembali.

Sekarang aku baru tersadar bahwa saat itu kami bukan lagi manusia,
ketika orang-orang tak berdaya  yang lari dan hampir  tenggelam di  dinginnya laut ,
atau jatuh terjengkang di kerasnya gunung, masih kami tembaki  dengan peluru dari laras-laras senjata, masih kami hujani dengan bom yang tak juga mereda.

Aku tak mampu lagi menghitung semua.
Bagiku, satu saja terlalu banyak bagai sejuta.
Tetapi kukuatkan hati agar kata tetap terangkai dan surat ini bisa kutulis buat kalian penerus masa.

Entah siapa kami? Kami tak lagi mengenal diri, ketika Minggu pagi memuji DIA di Gereja dan siangnya menghilangkan nyawa, ketika Jumat siang menyembah DIA di Masjid dan sorenya menumpahkan darah.
DIA, TUHAN yang kami puji dan sembah di pagi dan siang itu, ternyata adalah DIA, TUHAN yang kami bunuh di siang dan sore harinya.
Selalu saja kami bertamasya dalam asyiknya dosa.

Banyak di antara kami yang mau jadi pahlawan. Mungkin ingin agar namanya tercatat dalam lembaran sejarah kelam sebagai pengkhianat kehidupan yang berbangga ketika menghitung satu per satu nyawa yang meregang di ujung senjata.
Tetapi tak sedikit juga yang mau mengail di air keruh, keruh karena merahnya darah yang tertumpah.

Surat ini aku tulis dalam ingatan tak terlupa,
tentang masa-masa kelam ketika saudara membunuh saudara.
Tentang kesalahan terbesar tak terkira.

Surat ini aku tulis sebagai tanda buat kalian,
bahwa kita tidak akan menjadi keledai-keledai dungu yang masuk lagi ke lobang hitam yang sama.
Bahwa kita akan berbenah dan kalian bisa tertawa bahagia.
Kalian harus belajar bahwa agama bukan apa-apa bila dipakai sebagai dasar hancurkan kehidupan dan menghilangkan nyawa.
Kalian harus pahami bahwa hidup lebih berharga daripada ideologi-ideologi pembawa bencana.
Kalian harus berjanji bahkan bersumpah, tidak akan lagi mengulang kesalahan kami.
Kalian harus kuat 'tuk kembalikan senyuman di wajah negeri kita.

Surat ini aku tulis sambil berharap,
kalian sudi memaafkan kami yang wariskan negeri penuh duka,
kalian sudi memaafkan kami yang hancurkan indahnya hidup orang basudara,
kalian sudi memaafkan kami yang hampir tak peduli dengan masa depan tanah tumpah darah.

Surat ini aku tulis karena aku tak mampu lagi berkata.
Air mata terlalu deras tertumpah dan hati ini sedih gundah gulana.
Tetapi tetap saja kutulis surat ini, tanda peringatan dan cinta, pada kalian para pewaris  tanah pusaka, ANAK-ANAK MALUKU MANISE.


dalam rindu tak tertahan akan tanah MALUKU
Jusnick Anamofa

Jayapura, 12 Agustus 2006

Jumat, 18 November 2011

NAMA UNTUK ANAKKU

Kami menikah tanggal 30 Desember 2007 dengan cara yang tenang karena tidak dihadiri (bahkan tidak diketahui oleh keluarga dari pihak kami berdua). Pernikahan yang dilangsungkan di Jemaat GKI di Tanah Papua Maribu Tua (Dekat Depapre - Sentani - Papua) itu hanya dihadiri oleh kenalan dan warga jemaat setempat. Selesai menikah, kami masih sempat tinggal bersama selama hampir 2 bulan sebelum saya berangkat ke Jogja, sementara istri bekerja di Biak sekitar Februari 2008.

Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu sehingga kami berencana untuk belum punya anak dulu. Hampir 3 tahun di Jogja (2008 - 2011), kami bertemu hanya 1 tahun sekali, saat merayakan Natal dan Tahun Baru di Ambon. Lagi-lagi dalam perjumpaan-perjumpaan itu, kami masih ada dalam rencana di atas. Setelah saya menyelesaikan studi, Januari 2011, maka rencana baru pun dibuat, sudah saatnya kami punya anak. Awalnya ada keinginan bahwa dia (calon anak kami) mesti "made in Bali", tetapi ternyata salah perhitungan atau salah "kreatifitas", akhirnya gagal.

Puji Tuhan Sumber Segala Berkat atas semuanya, anakku ternyata "made in Nabire, Papua" (setahun terakhir, istri telah dipindahtugaskan dari Biak ke Nabire). Seiring waktu berjalan, pertemuan dengan istri pun hanya sekitar 1 bulan, saya kembali ke Jayapura untuk bekerja dan istri tetap di Nabire untuk bekerja. Hal utama yang kami pikirkan tentang itu adalah syukur kepada DIA, Sang Hidup. Hal selanjutnya adalah mempersiapkan hal-hal terkait situasi besar ini, termasuk finansial dan sebagainya.

Sampai beberapa waktu yang lalu, belum terpikir satu nama pun di dalam benak kami karena memang belum ada pemeriksaan tentang jenis kelaminnya (pake teknik kedokteran modern juga nieh). Setelah ada informasi dari Nabire bahwa si dia berjenis kelamin laki-laki, mulailah pekerjaan besar saya, sebagai (calon) Ayah untuk memberikan nama kepadanya.

Entah bagi orang lain, tetapi bagi saya pribadi, nama anak mesti diberikan oleh ayahnya (rada paternalistis juga nieh) karena itu adalah cara untuk menyatakan bahwa "Inilah Anakku, Kepadanyalah Aku Berkenan" (xixixixiiii). Dialah yang akan mewarisi namaku (Anamofa) agar aku (Anamofa) dapat hidup seterusnya walaupun aku (Jusuf Nikolas) akan mati pada waktunya.

Awalnya saya ingin mencari-cari nama yang baik dan tepat bagi anak saya. Saya coba mengingat-ingat lagi nama-nama yang beken dari Barat sana, kemudian nama-nama yang Alkitabiah (istri saya meminta supaya dia kelak dinamakan dengan arti "jawaban Tuhan"), tidak puas, saya coba mengingat nama moyang-moyang leluhur kami. Tidak puas juga, tidak puas juga, tidak puas juga, akhirnya saya berhenti mencari. Perhentian itu bukan berarti diam dalam ketidakpastian, tetapi diam dalam ketenangan sambil merefleksikan perjalanan hidup Anamofa, si ayah ini. Harapannya, refleksi itulah yang akan mendatangkan nama bagi si anak, Anamofa itu.

Setelah melewati pergumulan beberapa saat, akhirnya telah diputuskan bahwa Anamofa akan menjadi namanya. Dia adalah Pemberian Allah (sesuai keinginan istri agar salah satu namanya bermakna "Jawaban Tuhan"). Terkait nama itu, saya mesti membuka kamus salah satu bahasa dunia yang jarang digunakan di Indonesia, yaitu bahasa Rusia (entah mengapa tiba-tiba ada intuisi bahwa makna itu harus terkandung dalam salah satu nama bahasa Rusia). Munculah nama MATVEY yang berarti PEMBERIAN ALLAH. Bagi saya, nama itu masih menyiratkan keinginan ibunya. Refleksi atas perjalanan hidup saya belum nampak di sana lewat namanya.

Sekedar mengingat-ingat lagi, saya terlahir dari keluarga yang sederhana, di salah satu negeri Selatan Pulau Seram (Soahuku). Ayah saya, Zeth Imanuel Anamofa adalah pegawai golongan bawah karena cuma lulusan SMP (sebelumnya adalah relawan TNI AU saat Trikora yang bertugas menjaga logistik terutama bahan bakar pesawat-pesawat tempur di lapter Kuako). Ibu saya, Esterlina Adersina Sopacuaperu pun cuma ibu rumah tangga saja. Namun dalam kesederhanaan itu, saya bersama seorang adik, Stefanus Hendrik Robert Anamofa dibesarkan. Kami juga diasuh oleh nenek dari Ayah, Dina Anidlah yang bagi kami saat itu adalah seorang nenek yang sangat keras dengan semua hal yang dianggapnya salah. Kelemahlembutan dan kekerasan adalah makanan kami setiap hari. Setelah besar barulah saya mengerti, betapa bijaknya mereka berdua mendidik kami. Seiring waktu, semakin beranjak besar, semakin menjadi-jadilah diriku sebagai seorang Anamofa.

Kalau diibaratkan sungai, ada saat hidup saya penuh ketenangan, ada saat muncul riam-riam kecil, ada saat harus penuh batu-batu besar, bahkan harus melalui terjalnya gunung seperti air terjun. Walaupun demikian, hidup ini terus mengalir saja. Pernah suatu ketika, hampir dipotong jari-jari ini oleh Ibu karena mengambil seluruh gaji Ayah sebulan hanya untuk dipakai bermain biliard. Waktu itu saya baru saja naik kelas 6 SD. Beruntung masih separoh yang dipakai, kalah lagi. Atau pada saat SMA, saya hidup beberapa lama di atas keramba ikan, bekerja sambil sekolah. Bahkan saat ujian akhir (Ebtanas) pun, Ibu harus memanggil untuk turun dari keramba karena ketiduran akibat lelah bekerja. Masih pada waktu SMA, sempat menjadi penarik becak di malam hari di Masohi selama beberapa bulan karena kalau siang hari malu juga (apalagi rumah si ex pas di depan jalan utama). Saya hanya ingin menemukan sensasi dan pengalaman bekerja sebagai penarik becak saja waktu itu (1994/1995). Pada suatu ketika, masih di SMA, saya harus melarikan diri ke Tehoru (Menuju Seram Timur) karena bermasalah dengan pihak keamanan. Kalau tawuran intra atau antar sekolah, jangan ditanya lagi. Pernah saya bersama seorang rekan bahkan ditangkap oleh beberapa anggota Kodim Masohi dan diserahkan ke Polisi karena menyerang Akademi Perawat yang ada di RSU Masohi.

Karena itulah, semua orang tidak percaya kalau saya memilih sekolah Teologi sebagai tempat labuhan akademis berikutnya. Tetapi itulah pekerjaan Tuhan. Di bangku kuliah, yang harusnya menjadikan diri ini semakin baik, ternyata tidak demikian adanya. Pernah diskors 1 semester (nilai 1 semester dibatalkan) gara-gara membantu teman-teman pada saat ujian (skors masal terhadap angkatan 1996, fak. Teologi UKIM). Saat itulah saya benar-benar jatuh mentalnya. Saat masuk kembali, kuliah saya sudah mulai berantakan. Hal yang paling berpengaruh baik secara fisik maupun psikis bagi saya sampai saat ini ada 2, yaitu saat saya harus terbaring koma selama beberapa saat karena terlibat perkelahian dan harus dikeroyok di dalam sebuah rumah ibadah di kawasan Waringin - Talake - Ambon pada 30 Agustus 1997 dan berikutnya adalah saat konflik Ambon dan terlibat dalam kekerasan-kekerasan di dalamnya.
Namun Tuhan Maha Besar, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi Hidup, sampai saat ini, sungai kehidupan ini masih tetap saja mengalir.

Selain kekacauan-kekacauan dan kebanditan-kebanditan itu, ada hal-hal baik yang saya pelajari dari semua orang yang bagi saya adalah rekan, guru, sahabat sejati. Dalam kesalahan ada teguran keras, tetapi dalam teguran keras itu ada pelajaran-pelajaran besar. Setelah lulus kuliah S1 (saya jalani selama 7 tahun), saya tidak ingin menunggu untuk vikaris, saya langsung berangkat ke Jogja, menjajal salah satu Program Studi yang baru dibuka oleh UGM, Perdamaian dan Resolusi Konflik. Sayang sekali, saya harus mengaku kalah karena aspek finansial. Ada pilihan lain yang harus segera dibuat untuk mentransformasi kekalahan itu menjadi kesempatan baru untuk kelak bertanding lagi. Tes CPNS di lingkungan Pendidikan Tinggi adalah pilihan yang diambil. Lulus, ditempatkan di Jayapura adalah tanda kemurahanNYA.

Pengalaman-pengalaman baik dan buruk itu telah menjadi kekuatan bagi saya untuk terus menghidupi kehidupan ini. Bagi saya, semua itu terjadi karena ada spirit yang asalnya dari DIA. Spirit itulah yang menjadi kekuatan untuk terus menjalani kehidupan dalam peluang dan tantangannya. Setelah berefleksi dan tersadarkan akan kekuatan yang hanya datang dari DIA, maka anakku akan kuberi nama "AR'EILY" yang harafiahnya berarti "Singa Allah" (Ibrani). Singa sebagai simbol kekuatan tetapi bukan kekuatan natural, melainkan "Kekuatan dari Allah". Karena itu, nama itu akan bermakna "KEKUATAN ALLAH".

Belum cukup juga dua nama penting itu bagi saya. Satunya berbahasa Rusia, satu lagi berbahasa Ibrani. Mesti ada nama yang bermakna bagi kehidupan saya tetapi datang dari bahasa Tanah, bahasa Seram, bahasa Maluku. Refleksi itu pun membawa saya pada pengalaman berkumpul bersama beberapa kakak, teman, sahabat di SERI sekitar tahun 2000-an. Saat itu kami membantu kegiatan Pertemuan PI se-GPM. Lahirlah ide brilian untuk menghadirkan media PI GPM oleh seorang sahabat (Pdt. Elifas Tomix Maspaitella). Awalnya nama yang diberikan untuk media itu adalah dalam bahasa Yunani. Pertanyaan sederhana saya waktu itu adalah: "Bu, katong mau ber-PI kontekstual tapi media ini masih pake nama Yunani, seng ada nama lain dalam bahasa tanah yang bisa menerjemahkan akang bahasa Yunani ni?" Sedikit tertegun, entah penasaran, berpikir, akhirnya tanpa bersuara diketiklah satu kata: "ASSAU". Kata dalam bahasa yang digunakan oleh orang-orang Nuaulu yang secara sederhana dapat diartikan sebagai "PEMBAWA BERITA". Assau adalah orang sekaligus fungsi penyampaian berita kepada komunitas dari para pemimpin komunitas. Assau fungsi hermeneutis masyarakat lokal. Dengan ingat akan pengalaman itu, maka salah satu nama bagi anak saya adalah "ASSAUW", bahasa yang digunakan orang Nuaulu, yang berarti "PEMBAWA BERITA".

Lengkap sudah namanya, seorang ANAMOFA yang adalah MATVEY, pemberian Allah, yang bertugas dalam hidupnya sebagai ASSAUW, pembawa berita, tentang AR'EILY, kekuatan-kekuatan dari Allah.

AR'EILY ASSAUW MATVEY ANAMOFA, itulah namanya. Diprediksikan dokter lahir pada 2 Desember 2011, bisa maju, bisa mundur, tergantung SANG DOKTER AGUNG.

Kamis, 27 Oktober 2011

Tuhan, T-Shirts dan Toleransi di Indonesia

Judul dari catatan saya di atas adalah pengindonesiaan dari judul salah satu tulisan dalam website DIAN/INTERFIDEI berjudul God, T-Shirts and Tolerance in Indonesia yang ditulis oleh Achmad Munjid, Presiden Komunitas NU di Amerika Utara, tentang alasan-alasan mengapa ada T-Shirts yang bertuliskan "GOD, WHAT IS YOUR RELIGION?". Saya mohon maaf kalau judul itu saya angkat, tetapi mengingat isi catatan ini terkait dengan T-Shirt itu, maka tak ada salahnya kalau ia ada di sana.

Singkat cerita .. !!

Baru saja selesai "Fun English Class" yang dikoordinir oleh seorang Dosen Tamu di kampus saya yang berasal dari Amerika Serikat. Kelas yang luar biasa tentunya.

Tanpa bermaksud apa-apa, saya datang dengan T-Shirt yang dikeluarkan oleh DIAN / INTERFIDEI, bertuliskan "GOD, WHAT IS YOUR RELIGION? dengan gambar wajah lugu seorang bayi terpampang di sana. Ketika tiba di kelas, beberapa orang telah hadir di sana, namun tidak ada yang sekaget Dosen Tamu dari Amerika itu saat membaca tulisan di T-Shirt saya. Ia bertanya dalam bahasa Inggris, "Jusuf, apa artinya tulisan itu?". Saya dengan santai menjawab, "Saya yakin anda tahu artinya". Tetapi setelah terdiam sesaat, saya berpikir bahwa yang ditanyakannya lebih dari sekedar arti yang biasa, tetapi alasan atau pemaknaan saya terhadap tulisan di T-Shirt itu. Saya pun menjelaskan dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar, "Ini adalah ekspresi tentang keberagamaan di Indonesia dimana banyak umat beragama hidup dalam sektarianisme yang berujung pada kekerasan." Ia kemudian menyatakan, "Oke, saya hanya orang biasa dan sederhana yang mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Tuhan." Saya langsung saja mengaminkan itu, tetapi menyatakan bahwa semua agama lain pun mempunyai keyakinan tentang seseorang yang merupakan "jalan" kepada Tuhan. Ia sepertinya masih belum puas dan mengutip pernyataan C.S. Lewis yang menulis novel Narnia itu, katanya, "C.S. Lewis bilang, kalau kita bicara tentang Yesus, maka hanya ada 3 hal yang diberitakan tentang Dia, yaitu: Yesus itu pembohong, Yesus itu orang gila, atau Yesus itu Tuhan". Sampai di situ, karena keterbatasan saya berbahasa Inggris, saya pun menjawab bahwa persoalan ini mesti dibicarakan dalam perspektif Filosofis atau Teologi Agama-Agama. Percakapan kami berakhir karena kelas harus segera dimulai. Kelas hari ini adalah tentang "The Kinds of Violence". Menarik ... !!!

Masalah ini memang menarik. Saya akhirnya menyesali kekurangan dalam berkata-kata dengan menggunakan Bahasa Inggris secara jelas dalam ranah Filsafat (Heheheeee ... kalau membaca buku2 filsafat yang berbahasa Inggris tentu lain ceritanya dengan berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Inggris seputar filsafat). Akhirnya saya mencari dan menemukan satu link menarik yang menulis tentang hal ini, yaitu "God, T-Shirts and Tolerance in Indonesia" yang ada di website DIAN/INTERFIDEI untuk di"sharing" kepada beliau. Bagi saya, salah satu faktor utama mengapa hal itu menjadi masalah adalah "Konteks keberagamaan Indonesia dengan Amerika berbeda sehingga ekspresi-ekspresinya pun berbeda."

Sabtu, 22 Oktober 2011

Home Sick, Sense Of Lost, Be Faithfull


Hari ini pertama kali saya mengikuti satu kelas Bahasa Inggris yang menyenangkan. Kelas diselenggarakan oleh Pak Allan dan istrinya, Catherine Mitch, para pelayan dari MCC yang diutus untuk melayani di STT GKI I.S. Kijne Jayapura. Para peserta kelas itu adalah siapa saja yang tertarik belajar Bahasa Inggris dalam suasana yang menarik. Bertepatan dengan pertama kali keikutsertaan saya, datang 2 (dua) orang muda, berumur sekitar 20 tahun, yang laki-laki dari Kanada dan Perempuan dari Honduras, bergabung dengan kami. Mereka baru 1 (satu) minggu berada di Papua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dari lembaga-lembaga yang mengutus mereka.

Seperti biasa, orang-orang yang baru bertemu saling berkenalan dan bercerita tentang diri mereka, kami pun saling bercerita beberapa hal yang dapat membuat kami saling mengenal di awal perjumpaan. Hal yang menarik adalah kedua orang muda ini bercerita tentang 1 (satu) tema, Home Sick (rindu rumah). Kalau yang laki-laki bercerita bahwa ini adalah kedua kalinya ia merasakan home sick saat berada jauh dari rumah, maka yang perempuan bercerita tentang bagaimana ia merasakan itu. Menurutnya, hari pertama tiba di Papua, ia merasa seorang diri, tak ada teman dan saudara. Hari kedua, ia masih merasa kesepian tetapi mulai berjumpa dengan orang lain. Hari ketiga, perasaan itu masih tetap ada, tetapi ia mulai membiasakan diri ada dalam lingkungan yang baru dengan teman-teman yang baru, dan sampai saat pertemuan kami tadi, sepertinya ia sudah merasa tidak sendiri dan kesepian lagi. 

Saat sharing, Pak Allan mengatakan bahwa home sick adalah perasaan yang sangat manusiawi dan dapat terjadi kepada siapa saja yang berada jauh dari lingkungan keluarga. Bagi beberapa orang muda, memang lebih berat, tetapi hal semacam itu dapat diatasi seiring waktu. Satu hal yang kadang membuat orang yang datang dari Eropa atau Amerika mengalami home sick adalah perbedaan dalam hal cepat lambatnya aktifitas. Kalau di tempat asal mereka, aktifitas terjadi begitu cepat, sementara di Papua, aktifitas tergolong lambat.

Satu istilah menarik dari percakapan tentang home sick itu adalah sense of lost. Rasa kehilangan terhadap sesuatu yang dimiliki ketika tidak ada lagi dalam batas pandangan atau genggaman kita dan kita ingin kembali ke dalam pengalaman-pengalaman itu. Sense of lost itulah yang dirasakan oleh mereka ketika pertama kali menginjakkan Papua. Namun, hal itu akan disembuhkan seiring waktu. Tentu saja salah satu kapasitas utama manusia dan seluruh makhluk hidup adalah beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi.

Sungguh suatu bahan refleksi yang sangat dalam ketika bicara tentang sense of lost. Sebagian besar manusia pada satu titik pasti berada pada situasi yang dapat didefinisikan sebagai sense of lost. Terhadap seluruh hal yang secara empiris dialaminya seperti keluarga, teman, kerabat, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi sense of lost itu dapat menggambarkan situasi yang non-empiris? Pertanyaan ini diangkat ketika saya membayangkan suatu keadaan keterputusan manusia dengan situasi ideal, lebih lagi keterputusannya dengan Sang Ilahi. Apakah sense of lost dalam kaitan dengan Yang Ilahi dapat dirasakan dengan mendalam, sebagaimana yang dirasakan ketika manusia merasa home sick? 

Saya mencoba mencari dasar bagi pertanyaan itu dalam bacaan terhadap kitab suci dan menemukan satu kalimat, “Eli, Eli, Lama Sabaktani, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saya membayangkan bahwa saat meneriakkan kalimat itu, Yesus yang sementara tersalib merasakan situasi sense of lost yang luar biasa. Situasi kehilangan yang luar biasa terhadap ideal kehidupan manusia yang harusnya berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Namun, sense of lost itu tentu saja bukan kehilangan tanpa arti. Seperti yang dimengerti dalam kerangka home sick kedua teman baru di atas, sense of lost itu adalah perasaan kehilangan yang pada satu sisi menuntun mereka untuk kembali pada pengalaman-pengalaman kebersamaan sebelumnya, di sisi lain semakin menguatkan mereka untuk berjumpa dengan pengalaman-pengalaman yang baru. Sense of lost Yesus mengarahkan Dia untuk ada dalam pengalaman-pengalaman berikutnya. 

Kalau Yesus yang adalah teladan diceritakan mengalami sense of lost yang luar biasa, bagaimana dengan kita? Saya telah menyatakan bahwa kondisi ini pasti dialami oleh sebagian besar manusia. Kita tidak bisa menghindarinya karena memang demikian adanya. Dapat dikatakan bahwa hakekat kehidupan manusia adalah mengalami perjumpaan-perjumpaan sekaligus perpisahan-perpisahan. Menariknya adalah ketika baik perjumpaan maupun perpisahan itu terjadi dalam kerangka iman. Artinya, semua itu direfleksikan dalam keyakinan yang sungguh tentang apa yang harus dibuat sebagai jawaban atas pengutusan Sang Ilahi bagi kita di dalam dunia. Bagi saya, menjadikan kondisi kehilangan sebagai salah satu cara membesarkan diri adalah jalan yang beriman. Tuhan tetap mengerjakan bagiannya dalam perjumpaan-perjumpaan dan perpisahan-perpisahan yang kita alami, bagaimana kita mengerjakan bagian kita adalah persoalan iman.

Ini hanya sepenggal ekspresi dari refleksi atas perjumpaan dengan beberapa rekan yang juga merasakan beratnya perpisahan. Harapannya adalah kita, manusia, saling berbagi pengalaman tentang hal-hal yang menguatkan. Semoga Tuhan menolong kita.

Selasa, 20 September 2011

Provokasi Damai Dalam Perspektif "Social Traps"

Hari ini, seorang temanku menulisi damai dalam perspektif “problem of trust”. Saling percaya telah menjadi faktor penentu bagi perjumpaan-perjumpaan yang melampaui identitas-identitas komunal-religi. Ketika membaca tulisan beberapa rekan di Ambon tentang situasi terakhir pasca “bentrok massa” 9/11 yang berangsur damai, saya ikut bersyukur sekaligus merenung. Apakah hal itu akan sementara saja atau akan berlangsung terus di pulau yang manise itu. Tulisan-tulisan yang bernas itu telah menjadi provokasi damai yang menggugah.

Damai, entah dalam pengertiannya yang negatif (tiadanya perang dan atau kekerasan fisik) atau dalam pengertiannya yang positif (adil, sejahtera, makmur, sentosa, dll.) tetap saja menjadi impian. Ada teman yang menyatakan bahwa damai akan lebih bermakna bagi masyarakat yang pernah merasakan perang, konflik, rusuh, dll. Kalau soal makna, tentu tak dapat disalahkan.

Perenungan saya tiba pada sedikit keyakinan bahwa semua rekan di Ambon telah mulai berhasil keluar dari “perangkap sosial (Social Trap) situasi mereka. Social trap adalah istilah di bidang psikologi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Platt pada tahun 1973. Istilah itu adalah metafora bagi situasi-situasi di mana para aktor sosial mengambil keputusan yang ditentukan oleh penilaian terhadap tindakan-tindakan aktor-aktor yang lain di masa depan. Hal itu sangat berhubungan dengan keputusan untuk saling percaya dan bekerjasama dalam suatu situasi.

Secara sederhana, logika sosial trap adalah sebagai berikut (Rothstein, 2005:12):
  1. Situasi di mana “tiap orang” diuntungkan karena “tiap orang” memilih untuk bekerjasama.

  2. Tetapi, jika “seseorang” tidak percaya bahwa “orang lain” dapat bekerjasama, maka tak ada artinya memilih untuk bekerjasama karena suatu kerjasama sangat tergantung dari pilihan bekerjasama semua pihak.

  3. Jadi, “tidak bekerjasama” adalah pilihan bagi “orang-orang” yang “percaya” bahwa “pihak lain” tidak dapat bekerjasama.

  4. Kerjasama yang efisien untuk tujuan bersama hanya dimungkinkan jika “tiap orang” percaya bahwa “orang lain” juga akan memilih untuk bekerjasama untuk hal itu.

  5. Dengan tiadanya kepercayaan itu, maka social trap (perangkap sosial) akan langsung tertutup dan berakhir dengan buruk bagi “semua orang”, walaupun ada kesadaran bahwa ada keuntungan-keuntungan tertentu ketika memilih bekerjasama.
Ada beberapa dasar teoretis yang digunakan mendukung konsep ini, di antaranya adalah tindakan ekonomi politis yang strategis mengasumsikan bahwa “apa yang orang kerjakan sangat tergantung pada kepercayaan tentang apa yang orang lain akan kerjakan”. Selain itu, yang cukup penting adalah kemungkinan untuk keluar dari social trap itu dibatasi oleh fakta bahwa manusia secara rasional tidak dapat memutuskan untuk melupakan sesuatu. Artinya, dalam perspektif psikologis, perangkap sosial mengindikasikan bahwa pilihan terhadap ingatan dan pelupaan dalam memori tidak dapat ditentukan secara rasional. Dalam kasus Ambon 1999 - 2004, dapat saja orang “mengatakan” bahwa: “marilah kita melupakan apa yang terjadi dan hidup damai”, tetapi secara rasional, orang tidak dapat melakukan pilihan untuk langsung menghapus ingatan itu dari memorinya.

Dari logika dan indikasi-indikasi di atas, dapat dimengerti betapa seriusnya masalah social trap dalam kehidupan masyarakat. Indonesia, khususnya di Maluku telah pernah ada dalam perangkap sosial itu. Salah satu contoh adalah ketika orang-orang yang memegang kontrol terhadap arus informasi menyebarkan informasi yang saling menyudutkan. Sekali masuk dalam strategi yang didasarkan pada ketidakpercayaan, maka pintu perangkap akan tertutup dan sulit bagi orang untuk keluar. Hal itu lebih disebabkan karena adanya kesulitan tersendiri bagi orang-orang yang tidak saling percaya dalam waktu yang lama untuk membangun rasa saling percaya kembali dengan meyakini bahwa pihak lain pasti akan bekerjasama dalam tujuan bersama.

Walaupun demikian, secara rasional pula, dapat dikemukakan bahwa rasionalitas individual ikut menentukan rasionalitas masyarakat. Kunci untuk membuka pintu perangkap sosial, salah satunya adalah dengan mengandalkan dan atau mempercayakan rasionalitas individual memainkan peranannya. Individu-individu rasional yang membangun rasa percaya baru setelah sekian lama ada dalam komunitas yang tidak saling percaya dapat menjadi provokator damai. Individu-individu rasional itu pula yang dapat membuka pintu perangkap sehingga perlahan-lahan tercipta masyarakat yang secara rasional saling percaya yang berdampak pada kerjasama dengan tujuan bersama.

Terkait itu, individu-individu rasional itulah yang saya temukan dalam diri rekan-rekan yang selalu menulis tiap pengalaman perjumpaan yang melampaui rasa ketidakpercayaan itu. Tiap tulisan yang adalah provokasi damai itu perlahan namun pasti akan membuka pintu perangkap dan membebaskan masyarakat, khususnya di Ambon untuk kembali dalam rasa saling percaya.

Bagi saya, dipandang dari perspektif apapun, damai tetap lebih indah.
Bagi kalian yang telah menjadi provokator damai, terima kasih banyak karena ikut membentuk rasionalitas saya.

Referensi:
Rothstein, Bo, 2005, Social Traps and the Problem of Trust, NY: Cambridge University Press.

Nyanyian Jemaat GPM No. 36. "Saat Ini"