Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Mengapa Sampai Yogyakarta Menjadi Daerah Istimewa?

Saya berasal dari Maluku, bekerja di Papua, saat ini sementara melanjutkan studi di Yogyakarta. Akhir-akhir ini ada diskusi menarik dan panas terkait keistimewaan Yogyakarta. Bagi saya yang orang luar Yogyakarta ini, sudah merasa sangat aman dan baik-baik saja dengan kondisi yang sekarang. Kondisi ketika semua penduduk Yogyakarta saling menghormati dan menghargai dalam pengayoman kesultanan Yogyakarta di mana Sultannya adalah Gubernur Provinsi.

Saat ini, ada yang menyatakan bahwa keistimewaan Yogyakarta itu tidak sesuai dengan demokrasi. Pertanyaannya, demokrasi yang mana? Apakah demokrasi yang dirancang oleh para wakil rakyat di DPR, yang menyatakan bahwa masa jabatan kepala daerah dalam hal ini gubernur cuma dua tahun? Apakah itu sudah mewakili apa yang disebut dengan demokrasi?

Daripada bertanya-tanya soal hakekat demokrasi dan tafsiran-tafsiran atasnya, saya mencoba mencari-cari, mengapa sampai Yogyakarta disebut sebagai daerah istimewa? Saya temukan salah satu tulisan singkat di Vi…

Kembali Merajut Bingkai: Sepeda Onta Yang Tua

Pernah waktu masih di Ambon, ketika melihat seorang pastor – atau apapun namanya – mengendarai sepeda sepanjang ruas-ruas jalan, membawaku pada masa kisah masa kecil. Ketika tiba di Yogyakarta, setiap hari disuguhkan dengan orang bersepeda onta, semakin menguatkan kenangan-kenangan itu. Kenangan dalam batas ingatan masa kecilku, tentang sepeda onta milik ayah yang diperolehnya setelah keluar dari relawan AURI, penjaga tangki minyak di ujung Kuako, pada masa penguasa negeri mengumandangkan Trikora.

Waktu itu, harta kami yang paling berharga hanyalah sepeda onta yang selalu divernis tiap awal tahun. Sepeda yang berat, apalagi kalau sampai harus ditimpa oleh batang-batang besi yang kokoh itu karena hilang keseimbangan saat kucoba untuk mengguncang-guncangkannya. Rumah kami masih gubuk reot dari belahan “gaba-gaba” di mana sinar pelita di dalam rumah masih dapat dilihat dari pinggir rumah tetangga. Ketika tidur malam, selimut harus ditendangkan menutupi ujung jari karena angin menelusup l…

Antara Pemenang dan Pecundang

APAKAH PENTING HAL INI DIKATAKAN? BAHWA PEMENANG ITU LEBIH SEGALANYA DARI PECUNDANG?

Pemenang selalu menjadi bagian dari solusi
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah
(Saya berpikir: "Apakah mungkin akan ada pemenang tanpa pecundang? Akan ada solusi tanpa masalah?)

Pemenang selalu memiliki program atau rencana
Pecundang selalu memiki alasan dan permintaan maaf
(Saya berpikir: "bukankah permintaan maaf itu satu-satunya jalan untuk menyatakan bahwa kita masih punya hati? Tapi kalau kebanyakan minta maaf, ya hancurlah")


Pemenang berkata: "Biarkan saya yang melakukan untuk anda"
Pecundang berkata: "Itu bukan urusan saya"
(Saya berpikir: "Berarti spesialisasi dalam kehidupan saat ini adalah gagasan para pecundang? Bukankah pecundang tak bisa merencanakan?")

Pemenang berusaha mencari jawaban dari tiap masalah
Pecundang berusaha mencari masalah dalam tiap jawaban
(Saya berpikir: "Bukankah masalah dan jawaban itu bagaikan lingkaran, tak pernah habis…

Kisah Fanatisme + Kerinduan Mendalam: Quo Vadis Sepakbola di Maluku?

Sepakbola memang telah mendarah daging dalam kehidupan kita (kita, loe aje kalee, gue gak tuh .. ). Sejak kecil telah terbiasa dengan bola, mulai dari bola pingpong, bola kasti, bola plastik, bola karet sampai piaraan di rumah pun dipanggil "bola ... bola ... bola ..." (mohon jangan tertawai aku karena panggilan "bola" itu).


Lapangan berkerikil di depan rumah, di bawah teduhnya daun-daun dari 3 batang pohon mangga jadi tempat bermain bola di waktu kecil. Sayangnya sekarang tinggal sepohon, lebih disayangkan lagi, aku tidak menjadikan sepakbola sebagai sandaran hidup karena itu tak lebih dari sekedar hobby. Lepas dari itu, kalau soal fanatisme terhadap permainan yang satu itu, jangan ditanya. Mungkin kadarnya seperti kebanyakan orang yang fanatik sepakbola.


Fanatisme itu dimulai ketika melihat liukan Maradona menari-nari di lapangan pada tahun 1986 ketika World Cup di Mexico. Waktu itu TV di rumah masih hitam putih dalam box kayu besar. Bersama dengan sepupuku, kami…

Robot atau Manusia: Sedikit Mengkritisi Sistem Pendidikan Kita

Salah seorang teman baru saja mengajak saya untuk berdiskusi lewat catatannya tentang "Empati dan Identitas Sosial". Dalam tulisan itu, ia mengkritisi model pendidikan yang cenderung tidak memberikan pilihan bagi kemampuan berpendapat peserta didik. Peserta didik seringkali diarahkan secara sengaja untuk memilih jawaban yang benar tanpa perlu mempermasalahkan jawaban itu lagi. Sistem ujian dengan menggunakan pilihan ganda adalah contoh umum yang dapat diberikan.

Dalam diskusi itu, saya teringat pengalaman pahit tetapi cukup membuat saya lega hampir setahun yang lalu. Pahit karena membuat sejarah yang tidak baik di program studi saya, lega karena saya pernah membuat sejarah seperti itu. Sedikit berbagi pengalaman. Alkisah, tahun 2008 saya diterima melanjutkan studi magister filsafat pada salah satu Universitas kebanggaan di negeri ini. Kalau saya bilang Universitas besar itu ada di Yogyakarta, tentu teman-teman semua sudah bisa menebaknya.

Dengan latar belakang S1 yang pas-pasa…

Penilaian Sejarah Menurut John Dewey

Apa yang dilakukan ketika kita diperhadapkan dengan masalah? Pasti banyak dari kita yang akan menjawabnya mengikuti prosedur ilmiah, yaitu dengan mengidentifikasi masalah, memahami masalah itu sejelas-jelasnya, berupaya menemukan solusi terbaik, menyelesaikan masalah itu. Tentu jawaban seperti itu sangat benar, tetapi kebanyakan dari kita seringkali panik ketika diperhadapkan dengan masalah yang berujung pada pengambilan keputusan yang tidak hati-hati, seolah-olah untuk menyelesaikan masalah kita hanya ada satu pilihan saja. Dalam situasi itu, kita tidak lagi melakukan penilaian-penilaian tetapi secara spontan mengambil solusi. Hal itupun tidak dapat disalahkan karena memang sangat situasional. Tetapi ada baiknya bila kita dapat melakukan penilaian sejenak terhadap semua masalah yang diperhadapkan kepada kita. Salah satu penilaian yang sering kita lakukan adalah penilaian sejarah. Terkait dengan itu, saya mencoba melakukan bacaan terhadap mekanisme penilaian sejarah menurut John Dewey…

NEGARA KELIMA: Novel Menarik, Membongkar "Frame" Sejarah Kita

Pernahkah kita berpikir untuk melihat peta dunia secara terbalik? Bukan lagi Utara yang di atas, tetapi Selatan. Bukan lagi Barat yang di kiri, tetapi Timur.

Pernahkah terpikir siapa yang menggambar peta dengan meletakkan posisi Utara di atas dan Selatan di bawah garis katulistiwa? Pernahkah terpikir ada kepentingan dan ideologi apa di balik benak para kartografer itu?

Orang-orang di atas selalu menekan dan mendominasi orang-orang di bawah. Jangan-jangan peta sekarang ini sudah dibalik agar dunia menjadi lupa dengan cerita-cerita tentang dunia lama. Cerita-cerita tentang Dunia Selatan yang penuh kuasa, mendominasi peradaban.

Itu cuma selentingan narasi kritis dari satu novel provokatif yang asyik dan cerdas, NEGARA KELIMA, tulisan ES ITO, terbitan SERAMBI. Bercerita tentang Atlantis di Nusantara. Berkisah tentang sekelompok anak muda, 'KePaRad' (Kelompok Patriotik Radikal) yang muak dengan kondisi bernegara dan berbangsa di Indonesia, berniat meruntuhkan Indonesia dan mendirikan …

MARI MENOLAK LUPA

Saya adalah anak kampung, dibesarkan di negeri yang semua orang saling mengenal satu dengan lainnya. Dibesarkan dengan tarian maku-maku dan cakalele serta cerita-cerita tentang kebesaran para leluhur. Dibesarkan dengan kapata dan nyanyian tanah yang keluar dari mulut tete dan nene. Walaupun kadang tidak mengerti artinya, kuikuti saja nyanyian-nyanyian itu sambil angguk kepala dan sesekali pejamkan mata.

Itu kenangan dulu, ketika saat kecil masih tak mengerti apa-apa tentang pentingnya ingatan. Kini, baru timbul kesadaran bahwa cerita-cerita itu begitu penting, bukan karena itu narasi tentang leluhurku, tetapi karena tiap cerita itu adalah upaya mereka agar tidak dilupakan. Saya teringat film semalam yang kutonton, bercerita tentang 300 tentara Sparta yang melawan ribuan tentara Persia. Pesan terakhir dari sang raja kepada para pejabat di istana adalah “jangan lupakan kami, teruslah bercerita tentang kami.”

Di saat orang tua terus menurunkan cerita, masih ada yang memaksa untuk lupa. Pen…

PRAGMATISME PENDIDIKAN: Belajar dari John Dewey

Pengantar
Pragmatisme sebagai aliran filsafat dikembangkan pertama kali di Amerika. Filsuf pertama yang memperkenalkan dan mengembangkan pemikiran pragmatisme adalah Charles S. Peirce yang menekankan tentang aktifitas dan tujuan manusia dalam memperoleh pengertian dan pengetahuan. Pemikir Amerika yang sangat lekat dengan filsafat pendidikan pragmatisme adalah John Dewey. Pragmatisme sebagai aliran filsafat dapat dipahami secara metafisis, epistemologis dan aksiologis.

Metafisika dan Epistemologi
Realitas dalam pandangan pragmatisme adalah kenyataan yang tidak tetap dan terus berubah. Perubahan-perubahan dalam realitas itu menuntut perubahan juga dalam pemahaman tentang realitas. Jika realitas berubah secara kontinyu, maka yang dibutuhkan adalah transfomasi dalam memahami realitas. Transformasi itu nampak dalam pendekatan epistemologis menurut pragmatisme.

Epistemologi melibatkan individu, organisme dan lingkungan. Individu berinteraksi dengan lingkungan untuk hidup, tumbuh dan berkembang.…

IDEALISME PENDIDIKAN

PENGANTAR
Kenyataan pendidikan di Indonesia memang masih memprihatinkan. Kita boleh berbangga dengan masuknya beberapa Universitas ternama sebagai bagian dari 500 Universitas ternama di dunia namun di sisi lain, masih sangat banyak warga bangsa ini yang tidak mendapatkan pendidikan secara layak. Fasilitas pendidikan yang tidak merata, pelayanan di dunia pendidikan yang belum merata dan cenderung terfokus ke pusat-pusat pendidikan di kota-kota besar adalah kenyataan yang dihadapi setiap hari.
Pendidikan adalah hal yang menjadi hak asasi manusia, siapapun dia. Oleh karena itu, aktifitas pendidikan adalah aktifitas seumur hidup.

Dalam perkembangannya, pendidikan mendapatkan beberapa pendasaran guna memberikan pemahaman yang lebih baik tentang apa dan bagaimana itu pendidikan. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya coba membahas tentang salah satu pendekatan filosofis terhadap pendidikan, yaitu Idealisme Pendidikan.

Bahasan terhadap pendekatan ini akan dilakukan dalam beberapa aspek, yai…

Apakah Tempat Pengungsian Harus Dibedakan Berdasarkan Agama?

Saya sangat terkejut bercampur marah ketika merefresh "beranda" di account facebook saya dan mendapatkan link tentang tindakan orang-orang yang mengatasnamakan dirinya Forum Jihad Indonesia (FJI) terhadap para pengungsi Merapi di Yogyakarta. Saya mencoba melacak link asli tulisan itu dan mendapatkannya di tulisan dari Ninuk Setia.

Disebutkan di sana bahwa ada berita tentang "pemaksaan" oleh sekelompok orang (FJI) kepada para pengungsi Merapi dari Cangkringan yang mengungsi di Gereja Ganjuran, Bantul, untuk pindah tempat. Tidak disebutkan tentang alasan pemaksaan itu. Pada tanggal 9 November, sebanyak 98 orang pengungsi harus pindah ke Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul atas saran dari Sultan HB X.

Tentu saja berita seperti ini perlu dikonfirmasi lagi, tetapi setelah menelusuri di internet dengan kata kunci "pengungsi dipaksa pindah dari gereja", saya menemukan sangat banyak berita tentang itu, selain link pertama di atas. Hal itu menambah keyakinan saya ba…

AGAMA dalam DUNIA SIMULASI: Studi terhadap agama dalam perspektif Jean Baudrillard

Sudah dua hari berturut-turut saya mendapatkan kiriman layanan pesan pendek (SMS) yang isinya menawarkan berlangganan ayat-ayat Alkitab. Saya tidak menanggapinya dan membiarkan begitu saja, toh tidak ada potongan biaya selama tidak mengetik reg (spasi) …… kirim ke …..
Walaupun tidak menanggapinya, saya menjadikan itu sebagai salah satu fakta dari beberapa fakta lain yang menegaskan bahwa cara beragama kita telah mengalami pergeseran yang radikal. Kita telah terperosok dalam kapitalisasi agama demi keuntungan semata. Tentu klaim itu saya kemukakan bukan tanpa dasar. Kalau boleh saya berargumentasi secara singkat, maka saya hendak menunjukkan bagaimana kapitalisasi agama itu telah merasuk sedemikian jauh dan mempengaruhi cara beragama kita.

Agama selalu dipahami sebagai media yang penyampaian penjelasan tentang hal-hal yang benar-benar nyata (really real). Surga dan neraka adalah kenyataan yang sebenarnya dengan ruang dan waktu tersendiri dalam bahasa agama. Dosa dan pahala adalah kenyata…