Jumat, 13 Agustus 2010

Pihak TNI di Papua Melanggar Hak Hidup Generasi Muda Indonesia

Mengejutkan sekaligus menggenaskan ketika membaca berita tentang ratusan prajurit TNI di Papua mengidap HIV. Syukurlah telah dapat diketahui, karena dengan demikian penanganan baik pengobatan maupun pendampingan terhadap mereka dapt dilakukan.

Hal yang mengejutkan dan menggenaskan itu adalah apa yang disampaikan oleh Dan Yonif 751, Letkol Inf. Tatang Subarna dalam beberapa media online seperti vivanews, lintasberita dan metronews:

''Setiap dibuka pendaftaran, pasti ada calon prajurit yang positif mengidap HIV/AIDS, bahkan jumlahnya bisa 10 persen dari total yang mendaftar yakni rata-rata 300 orang. Itu pun baru pendaftar Jayapura . . . . Kami prihatin, dalam usia yang masih sangat muda dan begitu potensial, sudah terkena virus HIV/AIDS . . . . Bagi calon prajurit yang terinfeksi, kami hanya sebatas mengatakan kepada yang bersangkutan, Anda tidak lulus kesehatan. Namun, kami tidak membeberkan jenis penyakitnya.''


Hal ini menandakan bahwa tiap saat penerimaan calon prajurit TNI, para pendaftar yang positif HIV itu tidak diberitahukan statusnya atau dilakukan konseling terhadap mereka.

Saya membayangkan bahwa mereka kembali ke rumah dan menganggap biasa-biasa saja, berperilaku seperti biasa, dalam keadaan tidak mengetahui statusnya yang sebenarnya telah diketahui oleh pihak Kodam XVII Cenderawasih. Ketika mengetahui statusnya, mereka telah memasuki tahapan yang cukup sulit untuk diatasi.

Bila ini yang terjadi, rata-rata 30 orang saja tiap kali pendaftaran (10% dari total pendaftar rata-rata 300), maka tiap tahun terjadi peningkatan mereka yang telah "diketahui" statusnya sebagai pengidap HIV namun tidak dibarengi dengan penanganan yang "seharusnya" terhadap mereka.

Dengan menyembunyikan status kesehatan mereka, menandakan bahwa pihak TNI di Papua tidak memiliki kepedulian terhadap isu HIV/AIDS sebagai salah satu isu yang hangat dibicarakan di Papua. Dengan menyembunyikan status kesehatan para calon pendaftar itu menandakan bahwa pihak TNI di Papua telah bertindak melanggar hak memperoleh informasi terkait suatu keadaan yang membahayak diri seseorang, lebih lagi, telah melanggar hak hidup mereka yang "diketahui" mengidap HIV. Dengan menyembunyikan status itu, pihak TNI di Papua telah menutup kesempatan bagi mereka yang "diketahui" mengidap HIV itu mendapatkan pelayanan yang semestinya dari pihak-pihak yang peduli dengan isu HIV/AIDS di Papua.

Saya tidak bermaksud menjustifikasi situasi ini, tetapi apabila hal ini terus terjadi, patut dipertanyakan pilihan yang dibuat oleh pihak TNI di Papua dengan tidak memberitahukan status kepada mereka yang telah "diketahui" mengidap HIV itu. Kecurigaan sementara saya pribadi, "Jangan-jangan ini hanyalah salah satu upaya yang sistematis dan 'terencana' dari pihak-pihak tertentu untuk 'menghabisi' penduduk dan generasi muda Papua?"

Agar kecurigaan itu tidak menjadi nyata, menurut saya, perlu ada tindakan lebih lanjut dari pihak TNI di Papua, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait yang lebih berkompeten menangani isu HIV/AIDS di Papua, khususnya terkait pendampingan - konseling dan pengobatan. Apabila ada lagi di antara para pendaftar yang "diketahui" mengidap HIV, biarkan pihak-pihak terkait yang menangani hal itu, tanpa harus menyembunyikan status dari mereka secara pribadi. Ada beberapa lembaga yang telah berpengalaman melakukan pendampingan terhadap para pengidap HIV, biarkan mereka masuk menjadi bagian dari sistem penerimaan calon prajurit TNI, khususnya di bidang kesehatan, terkait dengan kemungkinan adanya calon prajurit TNI yang mengidap HIV.

Di lain pihak, Pemerintah maupun Lembaga Keagamaan harus cepat tanggap terhadap situasi ini. Pendekatan dengan pihak TNI perlu dilakukan karena hanya dengan pendekatan yang baik, generasi muda Papua dapat diselamatkan, paling kurang harapan hidup dengan sehat dan dapat bekerja dengan baik tetap ada.

Jadi, jangan lagi tutupi status mereka, konsultasikan hal ini dengan lembaga-lembaga yang telah berpengalaman menanganinya, konsultasikan dengan pemerintah, saya kira masih ada jalan bagi kita semua tanpa harus saling curiga, "Jangan-jangan ada U di balik B".

Sejarah Dalam Selembar Photo: Saat ini tak berarti, entah 20 tahun lagi

Sejarah selalu saja berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang sudah membeku, jarang dibicarakan secara umum, tetapi ingin tetap ditelusuri. Sejarah selalu bicara tentang masa lalu yang penting bagi seseorang, sekelompok orang, satu golongan, satu bangsa, dll. Sejarah tidak hanya harus muncul lewat deskrisi naratif para penulis sejarah. Sejarah dapat pula dimengerti lewat gambar, foto, film dan lainnya yang dianggap sebagai evidensi atau bukti-bukti masa lampau yang masih bisa diperoleh pada saat ini. Tanpa harus dinarasikan, tiap lembar foto akan berbicara kepada orang-orang yang ada di dalamnya, lama setelah moment itu diabadikan.

Kembali ke Jogja pada 2008 (dulu pernah ada di Jogja), saya memilih untuk tinggal di kost. Tetapi seiring waktu, saya memutuskan untuk tinggal di asrama mahasiswa Elim milik GPIB Marga Mulya - Yogyakarta yang beralamat di Jl. P. Senopati no. 40, Gondomanan - Yogyakarta.

Sekitar bulan Maret atau April 2010, saya mulai menjadi penghuni asrama tersebut. Ada beberapa peristiwa yang menurut saya penting untuk diabadikan. Perisitwa-peristiwa tersebut adalah:


Bung Ebed Lewerisa Ujian Tesis: 12 Juli 2010


Felixiano Nanuru Pulang ke Ambon: 15 Juli 2010


Bung Jery Matatula wisuda: 28 Juli 2010


Bung Cak Wenno wisuda: 07 Agustus 2010


Glory dan Wanda Matatula pulang ke Kupang: 11 Agustus 2010

Dari semua foto yang diabadikan, terkait dengan pilihan-pilihan peristiwa di asrama Elim, tidak ada foto saya. Hal itu disebabkan karena saya sendiri adalah juru foto, kalau bisa disamakan, saya adalah sejarawan yang sementara menulis sejarah. (analoginya bener gk ya ... ??? wkakakkaaaa ... )
Mudah-mudahan lewat foto-foto ini, semua kenangan bersama dapat selalu diingat.

Kamis, 12 Agustus 2010

Hewan Sahabat Setia Manusia, "Enam Kotak" ....????

Kalau saja di depan kita ada TTS dengan pertanyaan seperti judul di atas, maka dengan segera terlintas di kepala kita adalah kata ANJING.

Ya, salah satu hewan yang paling banyak dipelihara oleh manusia adalah Anjing. Hewan ini juga menjadi favorit para penulis cerita film ketika hendak membuat film tentang hubungan manusia dengan hewan. Katakanlah cerita tentang Rin Tin Tin, 101 Dalmatians, Buddy, sampai yang terakhir adalah film tentang kesetiaan seekor Anjing yang bernama Hachiko.

Kalau dalam film-film yang lain, sang penulis cerita hendak menonjolkan anjing sebagai hewan yang pintar, maka pada film Hachiko, penulis mau menonjolkan sisi penting dari Anjing, yaitu kesetiaan.

Gambar di atas adalah Mr. B, satu-satunya Anjing yang kami miliki bersama di dalam Asrama Mahasiswa GPIB Elim Gondomanan di Yogyakarta. Terhadap siapa saja, yang sudah masuk melewati pintu gerbang asrama, dia akan senang. Kadang melompat, mencium kaki, menggosok-gosokkan tubuhnya ke kaki kita. Tetapi terhadap siapa saja yang berdiri di luar pintu gerbang asrama, Mr. B tak segan-segan menyalak dan memberikan peringatan "jangan berniat jahat di dalam kompleks ini".

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli sebagaimana yang termuat dalam "National Geographic", diyakini bahwa Anjing adalah hewan sahabat manusia yang paling tua. Ada beberapa hal yang membuat Anjing sangat dekat dengan manusia, yang utama adalah faktor biologis dan perilaku Anjing.

Masalahnya adalah Anjing juga menjadi media penyebar salah satu penyakit mematikan, yaitu rabies. Namun hal itu ternyata tidak menyurutkan kita untuk tetap mengatakan bahwa Anjing adalah hewan paling setia terhadap manusia.

Kalau Anjing saja bisa setia seperti itu, apalagi manusia? Wah, pertanyaan yang tidak relevan. Anjing tidak punya kehendak bebas. Anjing dilatih terus menerus untuk melakukan beberapa aktifitas yang sama dan sepanjang hari ia akan melakukan aktifitas itu. Manusia, walaupun dilatih, tetapi bisa memilih, apakah mau melakukan suatu aktifitas atau tidak. Kesetiaan seekor Anjing, patut menjadi pelajaran berharga. Tetapi kehendak bebas manusia adalah hal yang paling berharga dalam kehidupan. Hal yang penting di sana adalah internalisasi nilai-nilai bersama yang dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan.

Senin, 02 Agustus 2010

Belajar Semasih Hidup

















Tadi siang rencananya mau jalan ke Shelter Trans Jogja di depan Istana Presiden di Jogjakarta untuk bertemu dengan seorang teman, ketika melihat hal menarik yang menurutku layak diabadikan. Seseorang yang sudah berumur, duduk selonjor di trotoar seberang BI Jalan P. Senopati sambil menulis sesuatu di atas kertas. Mulanya aku pikir itu hanyalah coretan biasa atau lagi mengisi kotak-kotak TTS alias teka teki silang. Setelah kulewati dan kuperhatikan, ternyata orang tua itu sedang berusaha menghubung-hubungkan huruf demi huruf dengan berpatokan pada huruf-huruf cetak yang menjadi contohnya. Dia berusaha menulis dengan mengikuti contoh di bagian atas kertas yang dia pakai.

Aku putuskan untuk membuat foto dari peristiwa itu. Berdiri sedikit menjauh, mengambil bidang yang lebih luas agar bisa jelas, apa yang dilakukannya dan dimana ia melakukan itu. Dia, lelaki tua itu sedang belajar merangkai huruf menjadi kata dan merangkai kata menjadi kalimat.

Menarik karena dia tidak mempedulikan situasi di sekelilingnya, tidak mempedulikan orang yang lalu-lalang dan tidak mempedulikan usianya yang sudah berumur. Menarik karena dia masih mau belajar, walaupun itu cuma belajar menulis kalimat saja. Di dalam benakku terlintas pikiran bahwa orang tua ini sebenarnya telah banyak belajar, bahkan tiap hari belajar tentang hidup. Dia pasti punya pengalaman yang tidak terbilang soal pelajaran yang satu itu, tetapi masih mau belajar lagi tentang baca tulis.

Belajar memang seumur hidup. Hal itu hanya bisa terjadi ketika manusia telah menjadikan belajar sebagai kebiasaan, sebagai habitus diri. Kebiasaan itu akan muncul di mana-mana, sadar atau tidak sadar. Dengan melihat kenyataan orang tua ini, aku jadi ingat para pemimpin bangsa ini, para wakil rakyat dan mereka yang menganggap diri penguasa. Mereka-mereka itu sepertinya sudah tidak lagi mau belajar. Mereka sepertinya sudah bebal karena menganggap kelebihan mereka itu sudah final.

Apa jadinya negara dan bangsa ini kalau dipimpin oleh orang-orang bebal yang tidak mau belajar lagi? Tak tahulah ...
Aku cuma mau bilang, lihat lagi laki-laki tua yang berselonjor di atas trotoar itu dan belajarlah dari dia.

Sabtu, 24 Juli 2010

Kearifan Lokal Guna Pemecahan Masalah

Pengantar

Perubahan adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi bukan saja berhubungan dengan lingkungan fisik, tetapi juga dengan budaya manusia. Hubungan erat antara manusia dan lingkungan kehidupan fisiknya itulah yang melahirkan budaya manusia. Budaya lahir karena kemampuan manusia mensiasati lingkungan hidupnya agar tetap layak untuk ditinggali waktu demi waktu. Kebudayaan dipandang sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau kelompok orang yang selalu mengubah alam. Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan setiap orang atau kelompok dalam menentukan hari depannya. Kebudayaan merupakan aktivitas yang dapat diarahkan dan direncanakan (Van Peursen, 1976:10-11). Oleh sebab itu dituntut adanya kemampuan, kreativitas, dan penemuan-penemuan baru. Manusia tidak hanya membiarkan diri dalam kehidupan lama melainkan dituntut mencari jalan baru dalam mencapai kehidupan yang lebih manusiawi. Dasar dan arah yang dituju dalam perencanaan kebudayaan adalah manusia sendiri sehingga humanisasi menjadi kerangka dasar dalam strategi kebudayaan (Ali Moertopo,1978;12).

Dalam perspektif di atas, realitas yang sebenarnya adalah masa kini (present) dengan segala permasalahan yang dihadapkan kepada manusia di dalam lingkungan hidupnya. Masa kini sebagai realitas adalah hasil interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Bila perubahan lingkungan fisik membuat manusia harus mensiasatinya dan melahirkan budaya-budaya yang terus menerus disesuaikan, maka perubahan-perubahan budaya itu juga mesti disiasati demi keberlangsungan hidup manusia.

Dengan pengakuan terhadap perubahan sebagai keniscayaan dan kemampuan manusia mensiasati lingkungan dan budayanya, maka kearifan lokal (local wisdom) bisa mendapatkan tempatnya sebagai bagian dari siasat kebudayaan itu. Makalah ini hendak mendiskusikan tentang posisi kearifan lokal sebagai pengetahuan lokal masyarakat dalam rangka pemecahan masalah masa kini (present problem solving).


Tentang Kearifan Lokal

Menelisik pengertian kearifan lokal, hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat pengertian kamus tentang istilah itu. Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Kearifan lokal secara sederhana dapat diartikan sebagai kebijaksanaan lokal.

Secara filosofis, kearifan lokal dapat diartikan sebagai sistem pengetahuan masyarakat lokal/pribumi (indigenous knowledge systems) yang bersifat empirik dan pragmatis. Bersifat empirik karena hasil olahan masyarakat secara lokal berangkat dari fakta-fakta yang terjadi di sekeliling kehidupan mereka. Bertujuan pragmatis karena seluruh konsep yang terbangun sebagai hasil olah pikir dalam sistem pengetahuan itu bertujuan untuk pemecahan masalah sehari-hari (daily problem solving).

Dalam pengertian yang lebih luas, kearifan lokal dapat dipahami sebagai berikut:

“Local wisdom is the knowledge that discovered or acquired by local people through the accumulation of experiences in trials and integrated with the understanding of surrounding nature and culture” (Naritoom, --)

Naritoom mengartikan kearifan lokal sebagai pengetahuan yang terakumulasi karena pengalaman-pengalaman hidup, dipelajari dari berbagai situasi di sekeliling kehidupan manusia dalam suatu wilayah. Hal serupa dapat dilihat pada definisi yang dimunculkan dalam situs Wikipedia.com:

‘Traditional knowledge, indigenous knowledge, and local knowledge generally refer to the matured long-standing traditions and practices of certain regional, indigenous, or local communities. Traditional knowledge also encompasses the local, knowledge, and teachings of these communities. In many cases, traditional knowledge has been orally passed for generations from person to person. Some forms of traditional knowledge are expressed through stories, legends, folklore, rituals, songs, and even laws. Other forms of traditional knowledge are often expressed through different means.” (Sitasi dari Wikipedia, 2010)

Dari definisi-definisi itu, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan atau hukum setempat.

Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai jiwa dari budaya lokal. Hal itu dapat dilihat dari ekspresi kearifan lokal dalam kehidupan setiap hari karena telah terinternalisasi dengan sangat baik. Tiap bagian dari kehidupan masyarakat lokal diarahkan secara arif berdasarkan sistem pengetahuan mereka, dimana tidak hanya bermanfaat dalam aktifitas keseharian dan interaksi dengan sesama saja, tetapi juga dalam situasi-situasi yang tidak terduga seperti bencana yang datang tiba-tiba.

Berangkat dari semua itu, kearifan lokal adalah persoalan identitas. Sebagai sistem pengetahuan lokal, ia membedakan suatu masyarakat lokal dengan masyarakat lokal yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari tipe-tipe kearifan lokal yang dapat ditelusuri:

  1. Kearifan lokal dalam hubungan dengan makanan: khusus berhubungan dengan lingkungan setempat, dicocokkan dengan iklim dan bahan makanan pokok setempat. (Contoh: Sasi laut di Maluku dan beberapa tempat lain sebagai bagian dari kearifan lokal dengan tujuan agar sumber pangan masyarakat dapat tetap terjaga).
  2. Kearifan lokal dalam hubungan dengan pengobatan: untuk pencegahan dan pengobatan. (Contoh: Masing-masing daerah memiliki tanaman obat tradisional dengan khasiat yang berbeda-beda).
  3. Kearifan lokal dalam hubungan dengan sistem produksi: Tentu saja berkaitan dengan sistem produksi lokal yang tradisional, sebagai bagian upaya pemenuhan kebutuhan dan manajemen tenaga kerja. (Contoh: Subak di Bali; di Maluku ada Masohi untuk membuka lahan pertanian, dll.).
  4. Kearifan lokal dalam hubungan dengan perumahan: disesuaikan dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah tersebut (Contoh: Rumah orang Eskimo; Rumah yang terbuat dari gaba-gaba di Ambon, dll.).
  5. Kearifan lokal dalam hubungan dengan pakaian: disesuaikan dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah itu.
  6. Kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia: sistem pengetahuan lokal sebagai hasil interaksi terus menerus yang terbangun karena kebutuhan-kebutuhan di atas. (Contoh: Hubungan Pela di Maluku juga berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan pangan, perumahan, sistem produksi dan lain sebagainya).

Tantangan Terhadap Kearifan Lokal

Bila ada sistem pengetahuan lokal, maka ada juga sistem pengetahuan global. Apabila sistem pengetahuan lokal merupakan kategori pembeda antara suatu komunitas lokal dengan komunitas lokal yang lain, maka sistem pengetahuan global berupaya mengatasi semua pengetahuan lokal dan menjadikan semua masyarakat lokal terintegrasi ke dalam satu sistem pengetahuan saja. Apabila sistem pengetahuan lokal muncul dalam bentuk mitos-mitos tradisional, maka sistem pengetahuan global muncul pula dalam mitos-mitos modern. Salah satu mitos yang sangat terkenal, khususnya di negara-negara berkembang dan bekas jajahan adalah “pembangunan”. Mitos pembangunan muncul guna membungkus ideologi “ekonomi politik pembangunan” negara-negara maju.

Definisi tentang pembangunan akan terus mengalami perubahan, disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Tetapi pada umumnya, pembangunan diartikan sebagai suatu proses perubahan dari kondisi yang tidak baik menjadi yang lebih baik. Indikator-indikator yang menunjukkan suatu kondisi tidak baik tidak ditentukan begitu saja, tetapi ada prosesnya tersendiri. Dalam perspektif pembangunan secara umum, pembangunan ekonomi mendapatkan porsi yang lebih karena indikator kemajuan suatu negara adalah pertumbuhan ekonomi yang baik. Namun, untuk memahami pembangunan ekonomi, mesti melibatkan perspektif politik. Hal itu disebabkan karena perumusan kebijakan pembangunan merupakan proses politik yang melibatkan beragam aktor – mulai dari negara, birokrat, politisi, pengusaha, lembaga swadaya masyarakat hingga masyarakat itu sendiri – dengan beragam kepentingan pula, yang interaksinya bisa jadi saling berbenturan. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mengatasi konflik tersebut, para aktor dituntut melakukan berbagai negosiasi dan kompromi. Dengan demikian untuk memahami kebijakan pembangunan dengan benar perlu ditelusuri secara cermat perilaku, motivasi atau pun preferensi para aktornya sehingga diperoleh jawaban: siapa memperoleh apa, berapa banyak, mengapa dan dengan cara bagaimana dari kebijakan pembangunan yang berlangsung di suatu negara dalam kurun waktu tertentu.

Dalam kerangka politik ekonomi pembangunan, kearifan lokal tidak mendapatkan tempat sama sekali karena telah disingkirkan oleh sistem pasar dan negara. Investasi demi pertumbuhan ekonomi negara adalah lebih penting daripada suatu tindakan berkelanjutan bagi masa depan manusia yang menjadi inti dari kearifan masyarakat lokal. Dalam beberapa kasus, bukan saja sistem pengetahuan lokal masyarakat yang terpinggirkan, tetapi juga masyarakat lokal secara fisik dipinggirkan atau direlokasi dengan alasan pembangunan. Selain itu, dengan alasan investasi pula, keamanan menjadi faktor penting dalam pembangunan. Struktur pengamanan dibangun sampai ke pelosok-pelosok negeri dengan melibatkan aparat-aparat negara yang cenderung tidak memahami cara-cara masyarakat lokal menyelesaikan sengketa di antara mereka.

Masyarakat lokal yang terorganisir dengan baik dan mendapatkan tempatnya dalam sistem pemerintahan negara Indonesia adalah negeri (desa). Negeri telah lama menjadi basis pertempuran antara masyarakat vs negara, sosialisme vs kapitalisme. Secara sosio-historis, negeri-negeri pada umumnya berbasis ekonomi sosialis (prakteknya mendahului istilah). Kepemilikan tanah dikelola secara komunal dengan semangat egalitarian dan pemerataan. Hukum adat tidak mengenal kepemilikan pribadi yang mutlak, yang dapat menimbulkan ketimpangan dalam sistem masyarakat tradisional. Hak-hak ulayat atau petuanan adat atas tanah menjadi contoh penting bagaimana pengelolaan tanah itu dilakukan di negeri-negeri adat.

Masalah muncul ketika sistem desa di Jawa dipaksakan untuk diberlakukan di luar Jawa. Di Jawa, telah lama terjadi penundukkan kerajaan terhadap desa dan membuat ketimpangan ekonomi-politik. Cerita-cerita lokal yang bisa diketahui melalui legenda atau sejarah menunjukkan dengan jelas bahwa desa sebagai wilayah dan komunitas lokal menjadi domain mutlak kerajaan. Raja di Jawa adalah penguasa pribadi yang melakukan pengendalian dan pemilikan atas desa beserta seluruh isinya, terutama tanah dan penduduknya secara absolut. Raja memiliki hak penggunaan kekerasan dengan aparat-aparat kerajaan yang terlatih untuk melakukan tindakan represi terhadap desa. Para penguasa lokal tunduk kepada raja dan harus memberikan upeti karena semua wilayah itu adalah milik raja. Ketika sistem desa diperkenalkan ke luar Jawa, maka jiwa dan semangat sebagai klien terhadap patron itu pun terbawa ke sana. Campur tangan negara mulai nyata dan merubah hampir seluruh sistem pemerintahan adat, dengan hukum-hukum adat yang berlaku.

Kondisi itu menjadi basis yang kuat bagi kolonialisme mengembangkan sistem kapitalis dan mengeksploitasi tanah dan penduduk desa. Kolonialismelah yang membawa sistem pengetahuan modern ke negara-negara jajahan, memperkenalkan dan mempraktekannya.


Posisi Kearifan Lokal Guna Pemecahan Masalah Masa Kini

Tidak dapat dipungkiri, saat ini dunia mengalami permasalahan yang belum pernah dialami sebelumnya. Setelah terjadi dua kali perang dunia yang meluluhlantahkan segi-segi kemanusiaan, maka sistem pengetahuan modern yang menjadikan manusia dengan kemampuan rasionya sebagai tuan atas dirinya dan dunia pun mulai dikritik. Kritik-kritik itu datang karena ketidakmampuan rasio modern mengeliminasi kehancuran-kehancuran yang ditimbulkan akibat kepentingan di balik setiap penemuan-penemuan di bidang ilmu dan teknologi. Saat ini dunia kembali berhadapan dengan situasi lain, yaitu perubahan iklim yang tidak lagi menentu. Sekali lagi rasio modern yang menjadikan pembangunan sebagai salah satu proses penting mendapat tantangannya. Dengan alasan pembangunan, lingkungan tempat hidup manusia diobrak-abrik, kota-kota baru dibangun, tambang-tambang baru dibuka, hanya untuk memenuhi nafsu konsumsi manusia.

Pada tahap itulah, ketika manusia dengan rasio modernnya telah bingung berhadapan dengan alam karena sudah tidak mampu lagi menguasainya, kearifan lokal memperoleh tempatnya kembali. Keharmonisan dengan lingkunganlah yang dapat menjamin masa depan manusia. Hal itu tentu saja telah dibuktikan lewat proses panjang kehidupan leluhur dalam komunitas-komunitas lokal dalam mensiasati alam lewat budaya yang arif dan bijaksana. Dalam beberapa kasus, konflik di Maluku misalnya, ketika kemampuan pengetahuan ilmiah dalam hubungan dengan manajemen konflik sepertinya sudah tidak mampu menemukan solusi terbaik, hanya kearifan lokal yang menjadi titik balik semua itu.


Penutup: Apa Yang Dapat Dilakukan?

Makalah ini jauh dari sempurna, karena kalau telah sempurna maka tidak layak lagi didiskusikan. Setelah kearifan lokal dipahami berdasarkan definisi, tantangan dan posisinya dalam memecahkan masalah masa kini, pertanyaan penting yang muncul adalah apa yang dapat dilakukan terhadap semua itu?
Tentu saja itu menjadi tugas kita semua untuk mendiskusikannya, tetapi dalam perspektif saya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1.Inventarisir semua bentuk kearifan lokal yang saat ini dapat digunakan sebagai solusi terhadap suatu masalah (problem solving).
2.Pengakuan terhadap identitas lokal sangat dibutuhkan bukan karena keterikatan semata-mata, tetapi karena ada kearifan lokal yang membedakan kita dengan orang lain.
3.Menghargai semua bentuk kearifan lokal yang kita miliki dengan cara memelihara dan meneruskannya kepada generasi ke generasi. Kearifan lokal itu adalah milik kita, walaupun orang lain meneliti dan mempelajarinya, tetapi situasi dan semangat untuk menjadikannya sebagai solusi dalam kehidupan setiap hari tidak akan mereka miliki.
Dalam bukunya tentang perjalanan Magellan mengelilingi dunia, Over The Edge of The World (2003: 13), Laurence Bergreen menulis:

Despite the overwhelming importance of spices to their economy, Europeans remained dependent on Arab merchants for their supply. They knew the European climate could not sustain these exotic spices. In the sixteenth century, the Iberian peninsula was far too cold—colder than it is now, in the grip of the Little Ice Age — and too dry to cultivate cinnamon, cloves, and pepper. An Indonesian ruler was said to have boasted to a trader who wanted to grow spices in Europe, “You may be able to take our plants, but you will never be able to take our rain.”


-------------------------------------------------

Referensi

Buku Sumber
Ali, Moertopo,1978, Strategi Pembangunan Indonesia, CSIS, Jakarta. .
Bergreen, Laurence, 2003, Over The Edge of The World, HarperCollins Publishers Inc.: NY
Van Peursen, 1976, Strategi Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta.

Link Internet
Ekonomi Politik Pembangunan, (diakses tanggal 23 Juli 2010).

Eko, Sutoro, Ekonomi Politik Pembaharuan Desa,
(diakses tanggal 24 Juli 2010).

Naritoom, Chatcharee. Local Wisdom/Indigenous Knowledge System. Nakhon Pathom, Thailand: Kasetsart University.
(diakses tanggal 23 Juli 2010).

Traditional Knowledge, (diakses tanggal 23 Juli 2010).






2010 - 1945 = 65 --- Kita Sesungguhnya Belum Merdeka

17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2010, 65 tahun sudah Republik Indonesia diproklamirkan.
Untuk menghitungnya, rumusnya sangat mudah, 2010 - 1945 = 65.

Bisakah kita menghitung yang lain?
1. Jumlah warga negara yang mati karena memperjuangkan kemerdekaan RI.
2. Jumlah warga negara yang mati karena "dianggap" berkhianat terhadap ideologi Pancasila.
3. Jumlah warga negara yang mati karena "dianggap" melakukan subversi terhadap pemerintahan yang sah.
4. Jumlah warga negara yang mati karena kelaparan sejak 1945 - 2010.
5. Jumlah warga negara yang mati karena tidak mendapatkan layanan kesehatan yang baik sejak 1945 - 2010.
6. Jumlah warga negara yang mati karena mendapat perlakuan sewenang-wenang dari aparat negara RI.
7. Jumlah warga negara yang mati karena negara tidak mengambil posisi yang baik saat konflik antar agama/suku.
8. Jumlah warga negara yang mati karena gizi buruk.
9. Jumlah warga negara miskin di Indonesia.
10. Jumlah warga negara pengungsi Ambon, Timor Leste, Sidoarjo, Aceh dan lain-lain yang masih tidak jelas masa depannya.
11. Jumlah penduduk warga negara Indonesia sampai dengan 2010. = [sensus 2010 = 238 juta jiwa]
12. Jumlah uang negara yang dikorupsi oleh para pejabat negara.
13. Jumlah warga negara yang tidak bisa menikmati pendidikan yang layak.
14. Jumlah warga negara yang tidak bisa menikmati perumahan yang layak.
15. Jumlah warga negara yang ditahan dan diberlakukan tidak manusiawi atas alasan politik.
16. Jumlah warga negara yang mati karena ledakan gas elpiji di dapur dapur penduduk RI.
17. Jumlah warga negara yang adalah anak terlantar yang dipelihara oleh negara.
18. Jumlah gereja yang dibakar dan dibiarkan oleh negara.
19. Jumlah ....
20. Jumlah .... [silahkan ditambahkan]

Bahwa sesungguhnya, kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Merdeka adalah fakta empirik secara politik, sah secara hukum, ketika ada pernyataan merdeka, diakui oleh negara-negara lain secara internasional lewat badan resmi seperti PBB.

Merdeka adalah fakta empirik secara sosial, ekonomi, budaya, ketika tiap orang, tiap kelompok orang, memiliki kebebasan mengekspresikan pemikiran lewat tindakan-tindakan yang tentunya ada dalam koridor konstitusional negara modern yang merdeka.

Merdeka bukan bagian idealisme tetapi harusnya realisme.

Merdeka adalah ketika "Basir" bisa bersekolah dengan baik dan tidak perlu gantung diri karena malu tak bisa bersekolah sebab orang tuanya tak punya biaya.

Merdeka adalah ketika "Para Pengungsi di Timor Leste" bisa punya Tanah dan Air sehingga tak percuma menyanyikan lagu "Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi Nan Jaya ..."

Merdeka adalah ketika "Gereja-gereja tidak lagi dibakar, dirusak atau tidak diizinkan untuk berdiri" di dalam negara yang konstitusinya menyatakan bahwa "Negara menjamin kebebasan beragama tiap warga negaranya".

Merdeka adalah ketika "Warga negara" tidak lagi diintimidasi dan dikerasi oleh kekuasaan lewat aparat-aparat negara.

Merdeka adalah ketika "ibu-ibu di dapur" bisa memasak buat keluarga tanpa takut mati karena ledakan gas.

Merdeka adalah ketika "Warga negara" bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Merdeka adalah . . . .

Merdeka adalah . . . .

Merdeka adalah . . . .

Merdeka adalah konkrit dan bukan abstrak .....

Merdeka bukanlah tujuan akhir.

Merdeka mesti dikerjakan.

Artinya, selama semuanya belum konkrit, kita sesungguhnya Belum Merdeka.

Kemerdekaan Indonesia masih dalam proses dan belum final. Kalau kemerdekaan itu saja masih dikerjakan dan belum final, apalagi negara yang berdiri atas fakta proklamasi kemerdekaan itu?

Artinya, Republik Indonesia ini tidaklah final.

Selasa, 20 Juli 2010

Uhfsssssss ... Tak Bisa Lepas Tiap Noktah Itu

Sudah empat malam kurendam kepala ini dalam pekat selimut tua. Benar-benar tua karena sudah kubeli empat tahun lalu di atas anjungan kapal di laut lepas Timur Werinama. Benar-benar hanyut dalam ingatan, ketika di pertengahan tahun, 13 tahun yang lalu sebongkah batu karang menghantam kepala, sebatang pipa besi meremukkan tulang iga.

Uhfffssss .... sok tahu, sok jago, malam itu kutenteng parang sambil melewati jalan yang penuh batu karena perkelahian yang baru usai. Sekilas terdengar suara "itu dia juga" dan "p e e nnnnnnnggggggggg", telinga mendering tajam dan kelebatan orang-orang pun mulai menghadang. Kucabut parangku tapi terlambat, sebilah benda tajam telah menyelinap di balik ketiak, menyongsor dada kiriku. Aku ditarik oleh seribu lengan ke dalam rumah yang sangat aku kenal. Kepala ditarik, dibenturkan ke dinding, sambil mata memincing melihat pukulan demi pukulan terus menghujam.

Aku hanya teringat kata: "Ya Bapa, ke dalam tangaMU kuserahkan nyawaku". Pasrah di dalam rumah Tuhan itu, menunggu saat terakhir di ujung parang terhunus dan kepalan-kepalan membabi buta. Dalam kepasraan itu, terdengar letupan membahana. Mata coba menangkap sesosok bayangan yang berdiri di tengah, antara tubuh ini dengan mereka yang diliputi amarah. Revolver pun membahana, mereka terkejut, mundur, menyisahkan sedikit jalan. Dalam keterkejutan, tubuhku ditarik setengah berlari, keluar dari rumah maut. Dengan lunglai, kuayunkan kaki ke atas kereta penyelamatku dan .... "pee ee ee nnnnngggggggggggg", telingaku kembali berdering. Kulihat sebentar wajah di sampingku, kualihkan pandangan ke tangannya .. Ya Tuhan, itu khan pipa.

Lolos dari maut adalah peristiwa terpenting dalam hidup. Sudah berkali-kali, selalu saja ada celah atau peristiwa tak terduga. Syukur sajalah yang patut untuk semua itu. Syukur lewat detak jantung, syukur lewat tarikan nafas.

Nyanyian Jemaat GPM No. 36. "Saat Ini"